Cahaya Mu di PII

Posted: Mei 6, 2011 in Uncategorized

Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin temanku bilang kamu sudah tidak patut di kenang
Kemarin temanku bilang kamu sudah bAku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin temanku bilang kamu sudah tidak patut di kenang
Kemarin temanku bilang kamu sudah beda
Entah sejak kapan..
Ku tanya: kenapa beda? apa alasanmu bilang begitu?
Ya pokoknya beda..
Beda, beda dan memang sudah beda
Karena sudah beda dengan yang dulu
Lho bukannya ada penjelasan kalau kamu punya pendapat?
Ndak mesti.. tapi..
Ya pokoknya beda.
Haha.. haha.. atau jangan-jangan perbedaannya
Sekarang kamu sudah tidak bisa menjelaskan pendapatmu?
Itulah bedanya
Karena sekarang hanya taunya beda, yang penting beda dan beda
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin aku coba buka kembali catatan-catatan harian mu
Ku bolak-balik foto-foto mu
Ku acak-acak lemari-lemari yang sudah tergembok
Dan ku bongkar kembali dokumen-dokumen
Yang barangkali aku akan menemukan bukti jelas
Kapan tanggal lahir mu
Dimana kamu lahir
Siapa dukun bayi yang melahirkan mu
Siapa sebenarnya ibu kandung mu
Dan apa sebenarnya alasan mu lahir ke dunia ini
Atau kamu sudah meninggalkan prasasti
Atau tugu monumen mu..
Atau jejak-jejak kaki orang yang mengenal mu
Untuk mengenang prestasi mu.
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin coba ku tanya ke beberapa orang yang dulu bersama mu
Mereka bilang kamu lahir beberapa tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 13 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 26 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 39 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 62 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 64 tahun yang lalu
Ah.. kenapa beda-beda
Dan kenapa angka 13 yang muncul
Atau jangan-jangan kamu memang keramat
Dikeramatkan dan setelah itu dianggap barang antik
Atau kamu sebenarnya tidak pernah lahir
Kamu sebenarnya belum pernah lahir
Kamu masih ada didalam kandungan
Dari tiap orang yang mendapat cahaya-Mu
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Apa memang aku benar-benar lupa
Atau aku pelan-pelan melupakan mu
Apa kita perlu bermufakat lagi
Untuk kembali memutuskan kapan sebenarnya tanggal lahir mu
Untuk kembali menyepakati berapa umur mu sekarang
Untuk kembali bersama-sama mensyukuri kelahiran mu
Untuk kembali membenarkan dimana sebenarnya kamu lahir
Tapi untuk apa
Dan yang bagaimana
Kenapa?
Apa kamu masih harus lahir sekarang
Didunia yang makin kacau dan makin terbelah
Bahkan diantara orang-orang yang senantiasa mengiringi kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah mencaci-maki kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah mensumpah-serapahi kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah memusuhi kamu
Kamu di tuduh kafir
Kamu di tuduh sekuler
Kamu di tuduh liberal
Kamu di tuduh tidak beriman
Kamu di tuduh melenceng dari ajaran
Kamu di tuduh aliran sesat
Kamu di tuduh pengkhianat
Aku menuduh mu apa lagi?
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Masih kokoh berdiri atap yang meneduhi mu
Masih kuat dinding dinding yang menyelimuti mu
Masih tegar menjulang kubah yang menghiasi mu
Masih jelas tangis yang mengiringi kelahiran mu
Masih jernih air yang menghapus lelah langkah mu
Masih tergelar sajadah untuk menerima sujud mu
Masih melambai salam untuk mengiringi gerak kaki kecil mu
Masih banyak anak-anak yang senantiasa menerima uluran tangan mu
Tapi
masihkah aku meyakini mu
Masihkah aku mempercayai kamu
Dalam jasad hina ini aku menengadahkan tangan
Menghrap cahaya Mu
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Manakala kami menyimpang
Amiin Yaa Robbal’alamineda
Entah sejak kapan..
Ku tanya: kenapa beda? apa alasanmu bilang begitu?
Ya pokoknya beda..
Beda, beda dan memang sudah beda
Karena sudah beda dengan yang dulu
Lho bukannya ada penjelasan kalau kamu punya pendapat?
Ndak mesti.. tapi..
Ya pokoknya beda.
Haha.. haha.. atau jangan-jangan perbedaannya
Sekarang kamu sudah tidak bisa menjelaskan pendapatmu?
Itulah bedanya
Karena sekarang hanya taunya beda, yang penting beda dan beda
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin aku coba buka kembali catatan-catatan harian mu
Ku bolak-balik foto-foto mu
Ku acak-acak lemari-lemari yang sudah tergembok
Dan ku bongkar kembali dokumen-dokumen
Yang barangkali aku akan menemukan bukti jelas
Kapan tanggal lahir mu
Dimana kamu lahir
Siapa dukun bayi yang melahirkan mu
Siapa sebenarnya ibu kandung mu
Dan apa sebenarnya alasan mu lahir ke dunia ini
Atau kamu sudah meninggalkan prasasti
Atau tugu monumen mu..
Atau jejak-jejak kaki orang yang mengenal mu
Untuk mengenang prestasi mu.
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin coba ku tanya ke beberapa orang yang dulu bersama mu
Mereka bilang kamu lahir beberapa tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 13 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 26 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 39 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 62 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 64 tahun yang lalu
Ah.. kenapa beda-beda
Dan kenapa angka 13 yang muncul
Atau jangan-jangan kamu memang keramat
Dikeramatkan dan setelah itu dianggap barang antik
Atau kamu sebenarnya tidak pernah lahir
Kamu sebenarnya belum pernah lahir
Kamu masih ada didalam kandungan
Dari tiap orang yang mendapat cahaya-Mu
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Apa memang aku benar-benar lupa
Atau aku pelan-pelan melupakan mu
Apa kita perlu bermufakat lagi
Untuk kembali memutuskan kapan sebenarnya tanggal lahir mu
Untuk kembali menyepakati berapa umur mu sekarang
Untuk kembali bersama-sama mensyukuri kelahiran mu
Untuk kembali membenarkan dimana sebenarnya kamu lahir
Tapi untuk apa
Dan yang bagaimana
Kenapa?
Apa kamu masih harus lahir sekarang
Didunia yang makin kacau dan makin terbelah
Bahkan diantara orang-orang yang senantiasa mengiringi kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah mencaci-maki kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah mensumpah-serapahi kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah memusuhi kamu
Kamu di tuduh kafir
Kamu di tuduh sekuler
Kamu di tuduh liberal
Kamu di tuduh tidak beriman
Kamu di tuduh melenceng dari ajaran
Kamu di tuduh aliran sesat
Kamu di tuduh pengkhianat
Aku menuduh mu apa lagi?
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Masih kokoh berdiri atap yang meneduhi mu
Masih kuat dinding dinding yang menyelimuti mu
Masih tegar menjulang kubah yang menghiasi mu
Masih jelas tangis yang mengiringi kelahiran mu
Masih jernih air yang menghapus lelah langkah mu
Masih tergelar sajadah untuk menerima sujud mu
Masih melambai salam untuk mengiringi gerak kaki kecil mu
Masih banyak anak-anak yang senantiasa menerima uluran tangan mu
Tapi
masihkah aku meyakini mu
Masihkah aku mempercayai kamu
Dalam jasad hina ini aku menengadahkan tangan
Menghrap cahaya Mu
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Manakala kami menyimpang
Amiin Yaa Robbal’alaminAku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin temanku bilang kamu sudah tidak patut di kenang
Kemarin temanku bilang kamu sudah beda
Entah sejak kapan..
Ku tanya: kenapa beda? apa alasanmu bilang begitu?
Ya pokoknya beda..
Beda, beda dan memang sudah beda
Karena sudah beda dengan yang dulu
Lho bukannya ada penjelasan kalau kamu punya pendapat?
Ndak mesti.. tapi..
Ya pokoknya beda.
Haha.. haha.. atau jangan-jangan perbedaannya
Sekarang kamu sudah tidak bisa menjelaskan pendapatmu?
Itulah bedanya
Karena sekarang hanya taunya beda, yang penting beda dan beda
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin aku coba buka kembali catatan-catatan harian mu
Ku bolak-balik foto-foto mu
Ku acak-acak lemari-lemari yang sudah tergembok
Dan ku bongkar kembali dokumen-dokumen
Yang barangkali aku akan menemukan bukti jelas
Kapan tanggal lahir mu
Dimana kamu lahir
Siapa dukun bayi yang melahirkan mu
Siapa sebenarnya ibu kandung mu
Dan apa sebenarnya alasan mu lahir ke dunia ini
Atau kamu sudah meninggalkan prasasti
Atau tugu monumen mu..
Atau jejak-jejak kaki orang yang mengenal mu
Untuk mengenang prestasi mu.
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Kemarin coba ku tanya ke beberapa orang yang dulu bersama mu
Mereka bilang kamu lahir beberapa tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 13 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 26 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 39 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 62 tahun yang lalu
Ada juga yang bilang kira-kira 64 tahun yang lalu
Ah.. kenapa beda-beda
Dan kenapa angka 13 yang muncul
Atau jangan-jangan kamu memang keramat
Dikeramatkan dan setelah itu dianggap barang antik
Atau kamu sebenarnya tidak pernah lahir
Kamu sebenarnya belum pernah lahir
Kamu masih ada didalam kandungan
Dari tiap orang yang mendapat cahaya-Mu
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Apa memang aku benar-benar lupa
Atau aku pelan-pelan melupakan mu
Apa kita perlu bermufakat lagi
Untuk kembali memutuskan kapan sebenarnya tanggal lahir mu
Untuk kembali menyepakati berapa umur mu sekarang
Untuk kembali bersama-sama mensyukuri kelahiran mu
Untuk kembali membenarkan dimana sebenarnya kamu lahir
Tapi untuk apa
Dan yang bagaimana
Kenapa?
Apa kamu masih harus lahir sekarang
Didunia yang makin kacau dan makin terbelah
Bahkan diantara orang-orang yang senantiasa mengiringi kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah mencaci-maki kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah mensumpah-serapahi kamu
Mereka yang bersama mu kemarin, sekarang malah memusuhi kamu
Kamu di tuduh kafir
Kamu di tuduh sekuler
Kamu di tuduh liberal
Kamu di tuduh tidak beriman
Kamu di tuduh melenceng dari ajaran
Kamu di tuduh aliran sesat
Kamu di tuduh pengkhianat
Aku menuduh mu apa lagi?
Aku sudah lupa berapa umur mu sekarang
Masih kokoh berdiri atap yang meneduhi mu
Masih kuat dinding dinding yang menyelimuti mu
Masih tegar menjulang kubah yang menghiasi mu
Masih jelas tangis yang mengiringi kelahiran mu
Masih jernih air yang menghapus lelah langkah mu
Masih tergelar sajadah untuk menerima sujud mu
Masih melambai salam untuk mengiringi gerak kaki kecil mu
Masih banyak anak-anak yang senantiasa menerima uluran tangan mu
Tapi
masihkah aku meyakini mu
Masihkah aku mempercayai kamu
Dalam jasad hina ini aku menengadahkan tangan
Menghrap cahaya Mu
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Manakala kami menyimpang

Amiin Yaa Robbal’alamin

oleh Soenano PB PII

Mewujudkan Mimpi Si Anak Bawang

Posted: November 28, 2009 in Harapan

Sudah menjadi sangat seremonial setiap tanggal 04 Mei Pelajar Islam Indonesia (PII) memperingati hari bangkit yang ke 62. Ini adalah momen yang sangat berarti bagi semua pemuda, pelajar di Indonesia. Keberartian adanya hari bangkit PII karena motor penggerak dan yang mengawali, merintis kesadaran adanya kesatuan antara pelajar sekolah umum dan santri adalah para pelajar itu sendiri. Walaupun sampai sekarang kesenjangan antara pelajar umum dan santri masih tetap ada dan entah sampai kapan dualisme model sekolahan itu bisa disatukan.

 

Seperti juga pada tanggal 20 Mei yang merupakan tonggak kesadaran ke Indonesiaan yang diprakarsai oleh para mahasiswa STOVIA (sebuah sekolah tinggi kedokteran pribumi di Jakarta) yang tergabung dalam Budi Utomo. Bila angkatan ’08 berhasil membukakan mata bangsa Indonesia bahwa selama berabad-abad kita telah berhasil dibodohi kaum penjajah. Lalu angkatan ’28 berhasil meletakkan sendi dasar dari perjuangan bangsa menuju suatu negara yang merdeka, berdaulat dan mandiri dengan ”sumpah pemuda” yang brilian. Kemudian angkatan ’45 dengan gemilang mampu bahu membahu mempertahankan kemerdekaan yang baru di capai. Lalu apa peranan pemuda, pelajar, mahasiswa sekarang?

Dengan reformasi 1998, saya masih yakin bahwa pada tiap perubahan masyarakat, generasi muda langsung terlibat di dalamnya. Tetapi yang lebih terlibat lagi adalah mereka yang termasuk golongan terpilih, berpendidikan dan memiliki kesadaran akan perubahan itu sendiri. Walaupun sudah masuk zaman reformasi, kita masih sangat jarang menjumpai adanya gerakan vertikal di masyarakat. Mereka yang bisa survive dan mendapat kesempatan pendidikan yang baik dan bermutu adalah dari kalangan berada dan kelompok elite di masyarakat.

Coba saja kita periksa angka-angka yang ada di negeri kita sendiri. Di negeri ini dari keseluruhan penduduk, ada 85,7%, hampir mendekati seluruh jumlah penduduk di negeri ini yang hanya mengenyam pendidikan dasar, dan termasuk mereka yang drops out dari sekolah dasar. Kalau kita lihat laporan data ESCAP population data sheet tahun 2006 ada sebanyak 35,29 % rakyat Indonesia tidak tamat SD. Ada sebanyak 34,22% rakyat indonesia hanya tamat SD dan hanya 13% rakyat indonesia hanya tamat SMP (Kompas, 10/12/2007).

Artinya sesuai dengan fungsi pendidikan dan pelajaran dari tingkatan sekolah dasar, sebagian masyarakat kita, pengetahuan mereka baru terbatas pada hal-hal yang bersifat dasar (elementaire). Sekedar mampu baca tulis, berhitung, menambah, mengurangi, mengalikan dan membagi. Hanya mengetahui (belum memahami apalagi menguasai) hal-hal dasar yang diperlukan untuk menghadapi dan menjalani tantangan dan persoalan kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya mereka yang mencapai pendidikan tersier diatas sekolah tingkat lanjutan baik akademik maupun universiter, tidak melebihi angka 1 %. Mereka merupakan lapisan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berfikir dan berperan menjadi pendorong bergeraknya kehidupan masyarakat. Padahal untuk mendorong dinamika dan perubahan sosial yang berkaitan untuk peningkatan dan perbaikan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat diperlukan setidak-tidaknya 30 % kelompok penduduk pada berbagai keahlian, terutama sekali pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Peran mereka sungguh sangat menentukan.

Bukan maksud penulis menjelaskan kondisi pendidikan nasional kita, tetapi jika kita mau mengupayakan adanya perubahan sosial, jika kita mau melakukan gerakan pemberdayaan di masyarakat yang perlu kita lihat paling awal adalah seberapa besar kualitas sumber daya manusianya. Dimanapun munculnya perubahan sosial di dunia ini selalu dimotori oleh pemuda, sekelompok orang yang sudah tercerahkan karena kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan. Karena sebagaimana yang disabdakan junjungan kita Nabi Muhammad Saw, ”kalau kita ingin dicintai oleh Allah, maka setiap muslim haruslah menjadi manusia yang kuat” – kuat dalam artian iman dan taqwanya, kuat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kuat secara ekonomi, kuat secara jasmani dan mental spiritualnya, serta dalam budaya dan politiknya. Menurut Samuel Huntington, tidak pernah ada masyarakat dhuafa (the haves not) di dunia ini yang mampu meraih kekuasaan sosial dan politik. Masyarakat dhuafa akan selalu merupakan masyarakat kelas bawah yang dengan mudah ditindas dan dimarjinalkan menjadi kaum mustadha’afin yang tidak berdaya.

Generasi Anak Bawang

Meminjam istilah Ibnu Khaldun bahwa kebudayaan yang yang kecil cenderung menjadi pengekor kebudayaan yang besar. Faktanya, di Indonesia SDM-nya masih sangat minim, ini terbukti dengan IPM (indeks prestasi manusia) Indonesia menempati urutan ke 7 dari 11 negara di ASEAN dan urutan ke 108 dari 177 negara di dunia (Kompas, 10/12/2007). Dilihat dari angka pengangguran terdidik di Indonesia telah mencapai angka 740 ribu, angka yang fantastis pada tahun 2007 (Republika, 13/02/2008). Pada level kebijakan tidak ada kemerdekaan di Indonesia padahal sudah merdeka sejak 63 tahun yang lalu. Di Indonesia siapapun yang akan jadi presiden harus atas persetujuan Amerika, jika tidak pasti akan gagal. Juga pada level kebijakan sosial, ekonomi, kebudayaan, pertahanan, pendidikan selalu di intervensi oleh negara maju.

Seperti yang disampaikan oleh Max Weber bahwa: ”Generasi kita tak begitu berun- tung untuk mengetahui apakah perjuangan kita kelak akan mendatangkan hasil (seper- ti yang pernah dicapai oleh generasi terdahulu) dan apakah keturunan kita akan mengakui kita sebagai nenek moyang mereka. Kita tidak akan berhasil menghapuskan kutukan yang terlontar kepada kita, sebegai pengekor dari suatu era politik yang besar, kecuali jika kita berhasil untuk menjadi suatu yang lain pendahulu dari suatu zaman yang lebih besar. Apakah ini yang akan menjadi tempat kita sejarah? Saya tidak tahu dan hanya bisa mengatakan: ”Adakah hak pemuda untuk jujur pada dirinya dan cita-citanya?”

Sudah menjadi kelaziman bahwa pelajar akan menggantikan generasi sebelumnya untuk berperan di tengah masyarakat. Perubahan sosial memang selalu ditandai oleh terjadinya kegentingan hubungan antar generasi. Kegentingan ini terjadi karena keampuhan sistem komunikasi yang efektif yang menyebabkan prasangka-prasangka. Mahasiswa akan selalu bertanya ”dimana posisi kami dalam sejarah?”. Kerancuan merumuskan visi diri sering disebabkan oleh bayangan kebanggaan generasi sebelum- nya. Kecenderungan keterlibatan ”generasi yang menang” untuk mengingatkan hasil yang telah mereka capai kian menebal. Maka pertanyaan mahasiswa pun terlontar ”siapakah kami?”. Bolehkah kami merumuskan siapa kami sesungguhnya, atau hanya epigon saja?

Kesadaran sejarah diperlukan untuk menentukan kontinuitas orientasi gerakan merubah masa depan lebih baik dari sekarang dan agar kita tidak kembali memutar sejarah. Kegagalan harus menjadi pelajaran jangan sampai terulang dan kesuksesan harus dilanjutkan. Mahasiswa harus bekerja keras dalam merumuskan formula antisipatif mendepan.

Yang jelas memang kita tidak ingin menjadi generasi pengekor, mengekor gagasan, aksi generasi sebelum kita. Yang lebih parah adalah munculnya kegamangan seperti ketika ada acara pertemuan instruktur se-Jawa yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Yogyakarta Besar. Hal ini disebabkan antara lain, pertama, keberanian melangkah dan mengambil keputusan apakah kita akan tetap melanjutkan dan mengimplementasikan ta’dib apa adanya. Keberanian memutuskan menjadi tonggak untuk bisa melakukan kajian selanjutnya yang lebih konstruktif dan mendasari cara berfikir dan merumuskan arah PII yang lebih baik.

Akan sangat susah, dan memiliki daya tekan yang lemah jika tidak ada legitimasi yang kuat bahwa ta’dib harus disempurnakan kembali. Kontrak struktur juga tidak ada karena tidak ada acuan hukum. Hal ini juga berkaitan dengan seringnya pertemuan instruktur yang tidak menghasilkan mufakat tentang penyempurnaan ta’dib. Yang sering ada adalah merekomendasikan pertemuan selanjutnya untuk kembali memperbincangkan ta’dib yang lebih teragenda dan terencana.

Keberanian ini juga berkaitan dengan usaha kita menyusun draf, model kaderisasi PII yang lebih sempurna mendepan. Menawarkan penyempurnaan dengan mengacu pada draf yang cukup lengkap akan memiliki daya tawar didepan forum. Draf juga menunjukkan keseriusan kita dalam mewujudkan cita-cita penyempurnaan sistem kaderisasi PII. Dan saya kira kesempurnaan dengan tidak menafikan kesemuannya dari sistem ta’dib akan lebih mudah dari pada membuat sistem kaderisasi PII yang betul-betul baru.

Kedua, kegamangan ini juga disebabkan oleh ketidaksiapan kader PII (instruktur) sendiri karena minimnya pengetahuan tentang ta’dib. Jangan sampai kita ahistoris terhadap sistem kaderisasi PII sendiri. Artinya, kemampuan kita menilai secara obyektif tentang ta’dib. Apa untung-ruginya, apa kelebihan dan kekurangannya, apa kebaikkan dan keburukannya. Sehingga, walaupun dalam memutuskan, subyektifitas kita sangat menentukan, namun, pertanggungjawaban kita kepada kader PII selanjutnya menjadi jelas. Kesinambungan dan keterkaitan dengan sejarah sebaiknya tetap mendasari keputusan kita. Alih-alih kita akan menyempurnakan sistem kaderisasi PII malah sebenarnya kita mengulang kembali problem yang sebenarnya sudah ada sejak dulu di sistem kaderisasi PII.

Pengetahuan juga tidak hanya mencakup tentang ta’dib itu sendiri, juga berkaitan dengan pengetahuan yang ada diluar ta’dib yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan sistem kaderisasi PII. Baik itu ilmu alat atau ilmu mentahnya. Pengetahuan ini berkaitan dengan tujuan sistem kaderisasi PII yang bersifat eksternal. Misalkan pada landasan filosofis ta’dib yang mau tidak mau kita harus memahami filsafat secara umum dan minimal filsafat ilmu. Karena ta’dib scara normatif didasarkan pada salah satu model pendidikan Islam menggunakan konstruksi teori pendidikan Islam dengan posisi Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai penguatnya.

 

Ta’dib adalah hasil telaah reflektif multidisiplin berbagai ilmu pendidikan Islam dan agama Islam digabungkan dengan ilmu-ilmu umum yang dibutuhkan kader mendepan. Untuk mengupayakan pengembangan kurikulum harus di mulai dengan telaah reflektif pula terhadap kurikulum yang ada dengan basis teoritik dan pengalaman yang memadai. Selain itu juga terus menerus melakukan konsultasi dan berdiskusi dengan ahli-ahli pendidikan dan ahli-ahli agama untuk memperkaya konseptualisasi kurikulumnya. Sebagai bentuk telaah reflektif terhadap al-Qur’an dan Al-hadist kita bisa melihatnya pada konsepsi dasar ta’dib

Ketiga, keputusan kita erat berkaitan dengan siapa yang akan melaksanakannya. Artinya cara berfikir kita harus melampaui beberapa periode kedepan. Apakah kader PII setelah kita mampu melaksanakan apa yang kita putuskan dan kita hasilkan saat ini. Berfikir futurologis harus dimiliki dan kita siapkan dalam setiap aktivitas dan usaha kita di PII. Saya kira hal ini juga sudah dipikirkan dan dipersiapkan oleh penyusun ta’dib waktu itu. Sehingga waktu itu muncul 3 asumsi ta’dib yang harus dipenuhi dulu sebelum kita bisa optimal mengamalkan ta’dib. Kiranya yang menjadi pertimbangan kita dalam mewujudkan kesempurnaan ta’dib adalah kekuatan kita mendepan masih sama dengan kekuatan kita sekarang.

Jangan sampai kita hanya menghasilkan kader yang hanya menjadi epigon kita mendepan. Mereka mengamalkan kaderisasi PII tanpa tau arah, landasan dan tujuannya. Kalau sampai hal itu benar terjadi, kita hanya menciptakan kader yang ber-taqlid buta tarhadap sistem kaderisasi PII yang baru, seperti saat ini. Juga menurut saya sama kelirunya jika kita serta merta mengembalikan sistem kaderisasi kita ke masa POIN yang tentunya jauh lebih jadul, lebih tidak relevan. Saya kira kita harus bijaksana dalam mensikapi persolan ini, memang akan ada yang selalu relevan dengan sistem kaderisasi PII sejak dulu, dan itu harus kita pertahankan adanya. Namun juga akan ada yang sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian dan itu harus kita buang jauh-jauh.

Keempat, berkaitan dengan kecenderungan kader PII yang selalu tidak pernah maksimal dalam memutuskan sesuatu. Ibarat kita mau berjalan ke suatu daerah, kita seringkali berhenti ditengah tujuan. Apakah itu berkaitan dengan persoalan pribadi, emosional, kepentingan individu, kekecewaan terhadap personal lain di struktur, sehingga kita harus keluar dan berhenti ditengah jalan. Atau juga karena faktor struktural yang terbatasi oleh periodisasi atau alasan konstitusional lain. Jika kita melihat banyak dari penyususn ta’dib yang aktif sampai 18 tahun. Siapa yang berani aktif selama itu saat ini? Keluarga, pekerjaan, masa depan sementara ditunda untuk menyelesaikan proyek umat.

Sebagai contoh, kanda Abdi Rahmat yang aktif sampai 15 tahun lebih sampai tahun 2002. kanda Ananta Heri Pramono di PII sejak tahun 1982 sampai 1998 yang kira-kira 18 tahunan, belum lagi kader PII yang lain yang ikut menyelesaikan sistem kaderisasi PII. Bahkan kanda Taryanto Wijaya terpakasa meninggalkan istri saat melahirkan demi rapat tim perumus selama 15 hari tahun 1998 karena sudah ada dead line harus selesai, sampai kemudian anak pertamanya diberi nama Mu’adib. Dan memang hampir semua tim perumus ta’dib tidak ada yang sebentar di PII. Menurut beberapa sumber, bahwa para konseptor ta’dib syaratnya minimal sudah 2 kali menjadi koordinator tim LAT, satu posisi yang sudah sangat langka di PII.

Saat ini kader PII paling lama hanya sekitar 10 – 12 tahun, itupun sudah merasa paling tua dan sudah ngoyot (bahasa jawa: mengakar). Saya sendiri yang baru 7 tahun sudah merasa paling tua diantara jajaran ketua umum PW se Jawa, jika dibandingkan dengan Rangga dari Jatim baru semester 3. Memang keputusan Muktamar ke 26 kemarin di Pontianak, kader PII maksimal menjadi 28 tahun, jelas ada maksudnya dan demi kebaikkan PII. Hanya dengan kontrak moral kader PII, dengan mengemban tugas menyelesaikan penyempurnaan sistem kaderisasi PII, saya kira para kader PII akan kembali memiliki ghirah untuk tetap di struktur.

Yang lebih penting adalah dengan adanya forum komunikasi instrukutur se-Jawa bisa menjembatani berbagai gap kebudayaan dan model implementasi ta’dib sementara ini. Juga bisa ditingkatkan dalam bentuk sharring berbagai pemahaman terhadap sisstem, metode dan teknik pengelolaan lokal. Yang terpenting forum komunikasi instruktur bisa meningkatkan peran instruktur PII dalam memberdayakan masyarakat. Gagasan adanya ”gerakan intelektual masuk desa” kiranya bukan hal yang utopis lagi.

Sudah saatnya peran optimal dari pelajar untuk terus melakukan pendampingan dalam upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat di kota dan desa. Sudah saatnya kita melakukan aksi yang lebih real dan kongkrit di masyarakat. Satu pertanyaan terakhir ”Apa yang bisa dilakukan oleh instruktur PII melihat tingginya angka kemiskinan dengan standar kualitas sumber daya manusia yang rendah di indonesia?” Berdasarkan data dari BPS penduduk miskin di Indonesia mencapai 16,5% atau 37,1 juta jiwa, sedangkan data dari Bank Dunia mencapai 49,5% atau 106 juta jiwa. Sedangkan data dari Askeskin mencapai 76,4 juta jiwa.

Harapan kita, gagasan ini tidak seperti pendahulu kita yang hanya seumur anak bawang. Kegelisahan ini muncul karena kita tidak ingin terjebak pada perbincangan manajerial. Kita kelelahan karena terkuras tenaga dan waktu hanya untuk membicarakan bentuk struktur dan model komunikasi. Dengan terus melakukan dialog guna menjawab problem sosial masyarakat kontemporer kiranya akan menjadi alat uji semua teori yang sudah kita dapat di PII.

Semoga…

Sunano

Meninjau Ulang Arah Pengamalan Ta’dib

Posted: November 28, 2009 in refleksi

Perbincangan yang mengarah pada evaluasi pengamalan ta’dib akhir-akhir ini memang semakin menguat di banyak wilayah. Hal ini khususnya dilatar belakangi sudah lamanya ta’dib menjadi sistem kaderisasi PII (sudah 10 tahun berjalan) dan dalam pengamalannya semakin beragam. Mencermati arah pengamalan ta’dib yang dilaksanakan Pengurus Wilayah (PW) se-Indonesia, membuktikan bahwa PII mampu menangkap pesan-pesan kebudayaan lokal setempat, juga menjelaskan kepada kita bahwa PII sangat dinamis dalam mengambil sikap dan peran ditengah persoalan-persoalan yang muncul, khususnya dikalangan pelajar atau bangsa Indonesia pada umumnya.

Seharusnya pengamalan training kita sesuai dengan sistem kaderisasi PII yang ada dalam sistem ta’dib. Dalam pengamalan, apa-apa yang melenceng dari sistem adalah salah, atau bisa jadi merupakan bid’ah yang tidak boleh diteruskan. Namun apakah kita menganut pemahaman yang sekaku itu. Sebelum kita berbicara banyak tentang apa ada kesalahan atau bid’ah jika kita mengamalkan ta’dib berlebih-lebihan, sebaiknya kita kembali menelusuri apa yang mendasari adanya sistem kaderisasi PII.

Dalam ta’dib kaderisasi PII sebagai proses sosialisasi, transformasi dan ideologisasi tata nilai melalui sistem organisasi. Sosialisasi adalah penanaman tata nilai, transformasi adalah dinamisasi tata nilai untuk menghadapi perubahan dan ideologisasi adalah penanaman nilai-nilai ilahiah. Dengan demikian seluruh aktivitas kaderisasi PII dimaksudkan untuk mempersiapkan sumber daya insani sebagai kekuatan inti organisasi dalam menggerakkan aktivitas untuk pencapaian tujuan dan misi organisasi1.

Dengan pemahaman tersebut, pengamalan bisa dikatakan salah manakala organisasi PII itu sendiri malah semakin menurun baik kualitas maupun kuantitas. Ada yang salah, ada yang kurang, ada yang keliru dalam pengamalan ta’dib selama ini. Atau memang persoalannya tidak hanya di implementasi, tapi juga mencakup sistem ta’dib itu sendiri.

Ta’dib jika kita tinjau dalam perspektif epistemologis mencakup sekumpulan ide yang menjadi pemikiran tersistematisasi, mencadi sistem kaderisasi PII. Ide ini berkembang sesuai dengan dialektika dan dinamika struktur. Ide ini membutuhkan komunitas agar ada aksi, sehingga ide tidak hanya sebatas idealitas yang mengawang-awang. Jika diskemakan seperti ini:

Ide Pemikiran sistematis (sistem ta’dib)

Sosialisasi dan Transformasi                                                                                        Tafsir dan Massifikasi

(Ideologisasi)

Institusionalisasi dan Partisipasi

Aksi (pengamalan) Komunitas (PII)

Jika kita perhatikan skema ini, sebagai format PII, ta’dib menjadi bagian yang sangat penting dalam organisasi PII. Dengan mengacu pada skema tersebut coba kita analisa persoalan-persoalan di PII khususnya pada pengamalan sistem ta’dib yang kita miliki.

  1. yang sangat mendasar kekurangan PII adalah melakukan tafsir terhadap ta’dib sehingga lebih relevan dengan kondisi kekinian dan memiliki orientasi jauh mendepan.

  2. massifikasi ide yang dibawa sistem ta’dib tidak berlangsung maksimal, bisa kita lihat bahwa PII sementara ini semakin merosot.

  3. partisipasi PII yang dilakukan lewat sistem ta’dib, karena sangat abstrak sehingga sering tidak bisa menjawab persoalan kekinian, apalagi berbicara masa depan.

  4. institusionalisasi, bahwa harapan kita setelah ada training banyak kader yang akan aktif di struktur sering tidak terjadi. Yang kita saksikan adalah banyaknya kader yang tidak aktif di PII mencapai 90%.

  5. eksklusifitas PII dan kemampuan menyerap berbagai media untuk mensosialisasikan ide-ide yang dimiliki, aksi yang sementara ini dominan kita lakukan hanya lewat training, yang lain mana?

  6. akhirnya transformasi ide menjadi sebuah aksi yang menghentakkan dan menyadarkan masyarakat pelajar sering tidak maksimal.

Kajian kritis Ta’dib

  1. Asumsi Yang Dibangun
  • Memformulasikan beberapa modus pembinaan pasca training (Usrah, Training Centre Kepengurusan, Training Kewirausahaan, Training Alternatif (Forpasdi), Training Jurnalistik, Training-Training BO Brigade dan PII Wati, Study Club, dll) yang dirangkum menjadi satu sistem dengan nama Ta’dib yang memuat 3 jalur; Training, Ta’lim dan Kursus.
  • Training adalah bentuk pembinaan kader yang berorientasi pada pembinaan kepribadian dan mental kepemimpinan. Ta’lim adalah bentuk pembinaan kader yang berorientasi pada fikrah, wawasan, pengetahuan dan perilaku islami. Kursus adalah jalur pembinaan kader PII yang berorientasi pada minat, bakat, keahlian dan potensi diri kader.
  • Menyempurnakan unsur-unsur kaderisasi PII yang cukup mendasar; 12 Sifat 8 Kemampuan, filosofi training,10 orientasi, sistem training, metodologi training, modul-modul training, kurikulum training.
  • Ta’dib dirumuskan dan disepakati untuk dijadikan sebagai sistem dalam pembinaan kader PII selama 10 tahun (1998 – 2008).
  • Masifikasi kader PII lewat tiga jalur (Ta’dib, GSK (1 PD, 3 PK dengan asumsi 1:25 untuk kader instruktur dengan angka pertumbuhan kader 25% per tahun) dan formalisasi PII)
  • Asumsi yang mendasari ta’dib adalah: struktur yang kuat, jejaring organisasi, dan pembinaan pasca training.

 

  1. Landasan teori pendidikan Islam yang di pakai

Ta’dib sebagai salah satu model pendidikan Islam menggunakan konstruksi teori pendidikan Islam dengan posisi Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai penguatnya. Ta’dib adalah hasil telaah reflektif multidisiplin berbagai ilmu pendidikan Islam dan agama Islam. Untuk mengupayakan pengembangan kurikulum harus di mulai dengan telaah reflektif pula terhadap kurikulum yang ada dengan basis teoritik dan pengalaman yang memadai. Selain itu juga terus menerus melakukan konsultasi dan berdiskusi dengan ahli-ahli pendidikan dan ahli-ahli agama untuk memperkaya konseptualisasi kurikulumnya. Sebagai bentuk telaah reflektif terhadap al-Qur’an dan Al-hadist kita bisa melihatnya pada konsepsi dasar Ta’dib.

 

Rancang bangun filosofisnya adalah bersumber pada kajian reflektif sumber normatif Islam. Manusia menurut Al-Qur’an sejak lahir membawa potensi kefitrohan (fujur dan taqwa sebagai nilai-nilai dasar ilahiyah yang berasal dari ruh-Nya (Q.S. 91:8, 38:72, 58:22). Dengan dasar tersebut fungsi kaderisasi sebenarnya dimaksudkan guna membentuk jati diri dan mengembangkan manusia menjadi orang semulia-mulianya manusia (Q.S. 2:30, 6:165, 27:62, 35:39). Pada perwujudan sebagai manusia itulah yang dinamakan Iman. Iman adalah keyakinan akan kebenaran. Dorongan ini akan menghasilkan “amal sholeh” (Q.S. 9:105)

 

  1. struktur keilmuan Ta’dib

selanjutnya, pada struktur keilmuan ta’dib menggunakan konsepsi teoritik yang dibangun dengan kerangka pendekatan psikologi perkembangan manusia. Manusia dilihat dari potensi memiliki dasar (basic attitude, achievement dan skill) yang harus sesuai dengan Islam. Sebagai obyek formal pendidikan, manusia sebagai subyek yang dinamis. Hal ini memungkinkan manusia untuk berkembang normatif lebih baik dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Ta’dib memiliki sistematika substansial yang jelas.

  1. Peserta dengan kualifikasi input yang jelas dengan meninjau lima aspek (aspek fisik, cara berfikir, kebutuhan, keagamaan dan emosional).
  2. Instruktur, pendidik dengan persyaratan selain kemampuan ketrampilan, profesi mengajar juga harus jelas kepribadiannya. Hal ini menjadikan ta’dib menjadi sarat (penuh) nilai, karena instruktur tidak hanya mendidik wilayah kognisi tapi juga wilayah afeksi (basic attitude) dan psikomotorik (amal sholeh). Lewat dasar kepribadian instrukur, ta’dib tidak hanya mencerdaskan tapi meng-adab-kan (menjadikan manusia beradab, beretika).
  3. Tujuan kaderisasi (ta’dib) yang sepanjang hayat dan memiliki implikasi setelah mati (perspektif pendidikan Islam).
  4. Strategi pengembangan (struktur ta’dib dari Batra ke Intra ke Advance dan yang lain) mengacu pada pada obyek formal ta’dib.
  5. Bahan atau materi dengan susunan yang mirip penyusunan ayat-ayat dalam al-qur’an (acak abstrak) pendekatannya bukan berbasis pada aspek kognisi tapi afeksi. Yang di garap adalah sikap, kepribadian, dengan beberapa cara (model piramida materi, fase, orientasi) dengan sistematika yang bertahap dan jelas.
  6. Lingkungan sebagai acuan implementasi, belajar dan optimalisasi basis kognisi, afeksi, dan psikomotorik. Ta’dib menggunakan metode pengembangan ilmu dan kurikulum yang berbeda dengan yang lain karena orientasi yang pokok adalah manusiannya “tidaklah aku diturunkan kecuali untuk menyempurnakan akhlak”.
  7. Operasionalnya adalah menggunakan model daur belajar dari tahap pemahaman (merekam mengolah dan mencoba) penghayatan (menilai memotivasi) dan mengamalkan

Pola hubungan yang umum dalam proses pengkaderan di PII

Yang harus di lengkapi

  1. penjabaran silabus ta’dib sebagai acuan instruktur pemula dan kontrol implementasi di lapangan

  2. referensi yang wajib di baca sesuai dengan pokok bahasan yang ada

  3. pemenuhan 3 asumsi dasar ta’dib

  4. pada konsepsi dasar Ta’dib yang perlu ditambahkan adalah (1) pandangan Islam tentang masyarakat (2) prinsip-prinsip yang menjadi dasar pengetahuan dan kepribadian pada pemikiran dan sikap Islam (posisioning akal dan hati)

  5. media (lembaga) kaderisasi PII

*Makalah ini dibuat dalam rangka sarasehan instruktur se-Jawa yang dilaksanakan di markas besar PW PII Yogyakarta Besar pada tanggal 14 – 17 Maret 2009

*Penulis adalah Ketua Umum PW PII Yogyakarta Besar Periode 2008 – 2010.

*PB PII 1998 – 2000, Ta’dib Buku Induk Kaderisasi, Jakarta: PB PII, hlm. 12.

Memikirkan Kembali Arah Kebudayaan PII

Posted: November 28, 2009 in refleksi

Setiap perubahan masyarakat selalu ditandai dengan munculnya generasi baru yang teroganisir dan terdidik. Generasi baru (pelajar) yang teroganisir menandai upaya mereka tidak lagi bersifat asal-asalan, tidak terencana dan sendiri-sendiri. Mereka lebih mengutamakan kekuatan sosial sebagai pressure group disemua institusi masyarakat. Sebagai pressure group kekuatan pelajar diorganisir, diarahkan demi kepentingan umum dan mendasarkan kekuatannya kepada isi dari pada apa yang diperjuangkan. Walaupun efektif menyuarakan kepentingan umat, pressure group hanya bisa hidup dan bisa kuat jika menyuarakan kebenaran yang diakui oleh sebagian besar masyarakat.

Karena itu, pressure group hanya akan bisa menjadi kekuatan moral, alat kontrol sementara. Begitu kebenaran itu ditegakkan kembali, misal bila pemerintah memperbaiki tindakan-tindakannya yang salah, maka organisasi ini harus dihentikan atau dia akan kehilangan simpati masyarakat. Untuk itu dibutuhkan instrumen lain yang efektif berupa pelajar terdidik yang difungsikan sebagai penekan penyediaan peran sosial yang besar. Dengan begitu akan menggugah kestabilan sosial, yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengadakan modifikasi atau perubahan yang diperlukan dalam strukturnya.

Proses sosialisasi, yaitu penyesuaian potensi dan kekuatan yang terkandung dalam generasi baru tersebut dengan kebudayaan harus di integrasikan. Hal ini sering dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai macam lembaga pendidikan, sesuai dengan tingkat dan jenis kebudayaan yang ada di masyarakat. Makin kompleks suatu kebudayaan, maka makin melebar fungsi-fungsi lembaga pendidikan tersebut. Dengan begitu maka akan efektif pelajar terdidik sebagai pendorong bergeraknya kehidupan masyarakat, peningkatan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat.

Pada tahap ini juga, masyarakat akan senantiasa mengalami ketegangan dan konflik. Benturan terjadi antara pelajar terdidik yang ingin mengadakan perubahan dengan kelompok yang sudah dimapankan oleh gagasan yang muncul sebelumnya. Perubahan berlangsung dengan menganalisis masalah-masalah yang muncul. Kekurangannya, sering sekali pelajar dalam menyelesaikan masalah berkiblat pada sejarah, padahal seharusnya hanya menjadi referensi dalam menyelesaikan masalah. Lebih parahnya justeru banyak pelajar yang melupakan sejarah, sehingga dalam menyelesaikan persoalan tidak ada keterkaitan dengan solusi yang sudah dilakukan sebelumnya.

Perkembangan semacam itu juga diperparah dengan masuknya budaya Barat yang tidak tersaring dengan cermat, sehingga sangat mempenaruhi pola pikir pelajar atau masyarakat Indonesia. Dampak yang paling terasa akibat masuknya budaya Barat adalah persoalan moralitas pelajar yang semakin merosot dan tenggelam dalam arus ideologi materialisme individual. Budaya yang dikomsumsi tanpa melalui proses proteksi terlebih dahulu, menyebabkan tidak bernilainya manusia hidup dimuka bumi. Ideologi material kapitalisme sejalan dengan perkembangan modernisme sebagai konsekuensi logis perkembangan tekhnologi. Mereka menyebarkan kepercayaan bahwa kebebasan individu lebih baik dari keadilan sosial. Ideologi ini disebarkan oleh sekolah-sekolah, partai, dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.

Karena itulah Antonio Gramsci mendefinisikan negara tidak hanya sekedar institusi-institusi pemerintahan bersama institusi militernya, tapi juga institusi-institusi lain seperti sekolah, lembaga-lembaga keagamaan dan sebagainya yang bekerja di bawah ideologi ini. Dengan begitu, kebebasan individual yang lebih penting dari keadilan sosial (dalam kebebasan individu juga termasuk kebebasan menumpuk kekayaan meskipun sebagian besar rakyat dalam kondisi kelaparan dan kekurangan) akan menghancurkan tata sosial masyarakat Indonesia. karena hal tersebut sangat menguntungkan kelompok elite di masyarakat, tetapi tidak bagi masyarakat miskin yang ada yang dalam posisi yang serba dilemahkan.

Pelajar tentunya sangat efektif sebagai pelanjut ideologi materialisme individual. Lewat institusi sekolah dilegalkan praktek kompetisi bebas secara individual. Siapa yang pintar, siapa yang berkuasa dan siapa yang memiliki kesempatan akan menjadi pemenang, kalau perlu dengan menghalalkan segala cara. Akhirnya sekolah disamakan dengan pasar, dengan kompetisi bebas tanpa menghiraukan norma (agama), etika dan moral masyarakat. Akibatnya, kita bisa menyaksikan banyak pelajar tercerabut dari lingkungan sosialnya. Artinya banyak pelajar yang tidak menyadari dan mengetahui, juga banyak pelajar yang masa bodoh dengan fakta sosial yang ada disekitarnya. Siapa yang peduli dengan 35,29% rakyat Indonesia tidak tamat SD. Ada sebanyak 34,22% rakyat Indonesia hanya tamat SD dan hanya 13% rakyat Indonesia hanya tamat SMP (Kompas, 10/12/2007) yang dominan disebabkan oleh persoalan ekonomi. Jika mereka bekerja hanya akan menjadi kuli, buruh di perusahaan-perusahaan yang sebagian besar tidak lagi dimiliki oleh orang Indonesia karena sudah di privatisasi (dijual ke negara lain) oleh negara.

Ketercerabutan budaya dan kekacauan moralitas pelajar juga disebabkan perilaku pelajar yang dominan mengikuti mode pasar. Islam tidak lagi menjadi identitas dan simbol bagi pelajar pada umumnya terlebih bagi pelajar Islam. Inilah salah satu strategi perang yang efektif yaitu perang budaya. Kunci yang bisa kita pakai adalah interaksi, asimilasi dan simbolisasi di pelajar. Keampuhan strategi kebudayaan adalah sifatnya yang laten. Akhirnya kita akan melihat substansinya adalah pelajar konsumtif, senang yang impor dan penolakan terhadap budaya sendiri. kita lihat kecenderungan pelajar yang selalu mengikuti trend, yang dibeli adalah image.

Untuk itu perlu dilakukan pembenahan pada sifat pelajar yang semakin tidak sesuai dengan norma agama. Pembenahan sifat pelajar muslim kita upayakan dalam tiga hal, sesuai dengan penjelasan Buya Hamka. Sifat tersebut, pertama memiliki rasa malu. Rasa malu tidak akan hidup didalam budi pekerti seorang manusia, kalau dia tidak mempunyai rasa kehormatan diri (syaraf). Dari rasa malu timbullah rasa mempertahankan diri, mempertahankan bangsa, negara dan kepercayaan yang dipeluk.

Kita bisa melihat pelajar yang semakin kehilangan rasa malu, misal hasil UN diperoleh dengan manipulasi, mencontek dan lain-lain. Mereka semakin tidak malu berbuat salah. Para politisi juga semakin hilang rasa malunya dengan senang korupsi, bertindak amoral. Kedua adalah amanah (bisa dipercaya) yang berprinsip bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, mereka akan selalu membutuhkan orang lain. Dengan bersikap amanah maka interaksi, sosialisasi dan komunikasi antar sesama manusia akan berjalan dengan lancar. Lebih jauh institusi-institusi masyarakat akan berjalan dengan efektif. Jika amanah runtuh, maka pemerintahan juga akan runtuh.

Artinya runtuhlah masyarakat dan umat kekubangan kenistaan yang lebih rendah dari binatang. Begitulah, amanah juga berfungsi membedakan antara manusia dengan hewan. Sifat ketiga yang harus dimiliki pelajar muslim adalah shiddik atau benar. Kebenaran harus menjadi bagian dari sifat pelajar muslim ketika hendak berinteraksi di masyarakat. Apa akibatnya jika pelajar sejak dini senang berbohong? Maka akan kacau masyarakat karena tidak ada kepercayaan. Mengupayakan hal tersebut hanya mungkin lewat pembiasaan dan pembudayaan di masyarakat dengan merujuk pada sumber asli Islam (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi)

Persoalan tersebut juga ditopang oleh sistem pendidikan yang kacau dan tidak menciptakan suasana yang kondusif dalam proses transfer ilmu pengetahuan. Alih-alih mempersiapkan generasi agar bisa bersaing dengan negara lain dengan meningkatkan jumlah SMK dan sejenisnya, pemerintah mengabaikan satu pemenuhan wajib yang harus dimiliki pelajar yaitu pengetahuan yang tidak hanya pengetahuan dasar, tetapi pengetahuan yang menyangkut wawasan nusantara, peta potensi dan permasalahannya. Pendidikan sekolah yang diorientasikan pada sektor skill tanpa diimbangi kemampuan kognisi dan yang terpenting adalah kemampuan afeksi akan semakin mengacaukan orientasi dan pembentukan citra diri pelajar.

Afeksi (pendidikan moral) sebagai basis budaya dan kontrol terhadap perilaku pelajar semakin hilang dari realitas hidup umat manusia dimuka bumi terutama dikalangan pelajar. Padahal, generasi mendepan (pemimpin) harus didasari dengan budaya, moral dan etika yang jelas. Sumber budaya ada dua yaitu agama dan indigeniously knowledge yang berpijak pada kearifan lokal. Agama memberikan arah budaya yang dinamis-transendental karena berpijak pada sesuatu yang berada diluar diri manusia. Inti nilai yang bersumber pada common ground yang mutlak lebih dominan memberikan isi dari pada bentuk kebudayaan itu sendiri. Sedangkan kearifan lokal memberikan wadah operasional yang dinamis di masyarakat. Persoalannya kearifan yang mana? Makanya kita semakin susah mendefinisikan budaya Indonesia.

Beberapa persoalannya antara lain menurut analisa Geertz, kebudayaan Indonesia sebetulnya berada diantara dua gugus sosial-budaya. Di satu fihak Indonesia tidak termasuk salah satu kebudayaan kontinental dengan suatu inti kebudayaan yang luas, relatif seragam dan telah lama dibakukan (seperti halnya kebudayaan China, India dan Rusia), dan di pihak lain kebudayaan Indonesia bukan pula kebudayaan dari suatu negara pulau yang homogen dan yang berada jauh di luar jalur lalu lintas dunia (seperti Jepang misalnya). Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan kepulauan yang berada justeru pada jalur lalu lintas dunia semenjak zaman dahulu, terkena berbagai gelombang kebudayaan besar, dan terpaksa berusaha melakukan penyesuaian budaya berulang kali, dan tidak selalu berhasil mencapai suatu sintesa baru. Sebab itu agama yang memberikan kontribusi terhadap isi budaya menjadi beragam walaupun substansinya sama, karena mengejawantah pada kondisi lokal masyarakatnya masing-masing.

PII adalah sebuah organisasi pelajar dengan pendidikan dan kebudayaan sebagai tatapan visi gerak, sudah seharusnya berbagai persoalan diatas menjadi tanggung jawab para kader dan organasisasi PII sendiri. Namun, internal PII juga mengalami pembiasan dan penurunan budaya yang menjadi landasan gerak organisasi. Budaya organisasi merujuk kepada nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam kelompok dan cenderung bertahan sepanjang waktu bahkan meskipun anggota kelompok sudah berubah. Dengan merujuk pada kesimpulan itu, kita bisa melihat kecenderungan semakin susahnya PII melakukan sosialisasi, ideologisasi dan transformasi kepada kader-kader yang dimiliki. Hal tersebut dikarenakan nilai-nilai bersama yang disepakati dalam kelompok tidak ada. Jika melihat sistem kaderisasi kita, pada proses pelaksanaan kita akan melihat perbedaan yang sangata jauh ketika pembentukan kader dengan sistem cuci otak (brain-washed) dari pada kaderisasi sebagai proses perubahan budaya kader.

Pada sistem yang pertama, akan dicirikan dengan sikap eksklusif, tertutup dan doktrinatif. Ini disebabkan karena norma-norma yang berlaku di organisasi tersebut sudah menjadi semacam dogma yang sakral. Pada sistem yang kedua kita akan melihat suatu sikap yang inklusif pada nilai-nilai lokal yang konstruktif, dengan begitu sistem yang kita pakai adalah sistem terbuka, sehingga bisa mengapresiasi nilai-nilai dari luar. Selain itu metode yang kita gunakan adalah memberikan kesadaran dengan contoh dan perilaku yang benar, budaya yang baik yang kita miliki. Juga dengan penyadaran dan dialog yang cerdas dan membangun.

Walaupun begitu, kelebihan dan keunikan di PII adalah kemampuannya yang terus menerus bisa mereproduksi pemikiran dan kebudayaan baru yang selalu berbeda antara periode yang satu dengan yang lain. Ini memungkinkan adanya kemampuan untuk selalu menyesuaikan dengan perkembangan budaya yang ada. Kemampuan transformatif yang besar ini dikarenakan energi pelajar yang besar. Kekurangan yang perlu kita tambal adalah keterkaitan antar generasi harus jelas sehingga kontinuitas gerakan terus terjaga.

Melihat kenyataan yang semakin mengkhawatirkan, seharusnya PII lebih tepat melakukan posisioning dengan mengambil segmen yang jelas dan tidak kontra produktif dengan sistem yang lain. Artinya, kita berupaya melengkapi dan membangun sistem pendidikan yang berbasis pada norma agama (ke-tauhid-an) yang memiliki basis nilai lebih dalam. Sistem yang berbasis agama berfungsi sebagai dasar moral dan etika dalam proses pembangunan kebudayaan dan peradaban. Hal tersebut penting dilakukan mengingat budaya dan tata nilai yang selama ini berlaku lebih mengakomodasi orang kaya-tetapi kotor dalam perilaku ketimbang orang pintar, miskin dan bersih.

Tentunya kita tidak ingin mewariskan orang-orang yang tamak, serakah dan korup. Menciptakan satu sistem yang membentuk watak dan prinsip yang tidak bisa dilacurkan untuk kepentingan materi. Juga, bagaimana membentuk kearifan dengan memposisikan lawan dan kawan secara demokratis dan manusiawi. Lebih umum, membangun sistem budaya yang berparadigma ketauhidan dan berkarakter transformatif.

Dalam Islam kita mengenal satu pemahaman bahwa Islam itu laksana pohon yang baik. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Islam seperti pohon yang dahannya menjulang tinggi ke langit. Ini maksudnya bahwa Islam (umat Islam) harus mampu memahami zaman yang paling kini. Peristilahan tersebut menurut Al-Qur’an mngisyaratkan bahwa pemikiran Islam harus memiliki orisinalitas, keaslian dan menzaman sebagai suatu syarat ketangguhan pemikiran (kebudayaan) Islam. Maka dari itu gerakan Islam harus memiliki keterkaitan dengan tradisi, mengandung orisinalitas dan bersifat relevan.

Kita bisa fahami bagaimana Eropa mengembangkan kebudayaannya jika melepaskan keterkaitan dengan budaya bangsa Yunani kuno. Maka dari itu disetiap pelajaran, kita masih harus memahami siapa Aris Toteles, siapa Socrates, Descrates, Plato; bakan kita merujuk pendapat mereka dalam karya Ilmiah yang kita buat. Kebudayaan besar adalah kebudayaan yang tidak menghilangkan sanad dengan masa lalu (akarnya jauh menghujam kedalam tanah) tetapi juga terus mengembangkan agar selalu relevan dengan kemajuan zaman yang ada.

Logika inilah yang kita pakai dalam mengembangkan kebudayaan pelajar yang sesuai dengan Islam. Tradisi Islam harus kita pelajari agar ketika kita berpijak tidak kehilangan jejak dan ada petunjuk jalannya. Islam sebagai aturan yang masih bersifat umum dan nilai-nilai yang terkandung universal, berguna agar relevansinya tetap terjaga.

Tidak perlu mulai dari nol. Itu barangkali ungkapan yang tepat untuk mengungkapkan pentingnya mengembangkan sesuatu dari yang sudah ada. Dan untuk itu, tentunya perlu ada proses membaca, meneliti dan memikirkan, merenungkan dan berbuat sebaik mungkin demi kepentingan bersma. Dan yang paling penting, umat sudah menunggu langkah konkrit kita kawan….

Malam Jum’at kliwon,

12 maret 2009…

Sunano

Sebenarnya memang lazim dalam sebuah organisasi, bahwa kultur organisasi menjadi perbincangan menarik dan menjadi topik utama dalam diskusi. Namun selalu mengalami kebuntuan manakala mencoba merumuskan apa sebenarnya kultur PII, bagaimana bentuk dan perwujudannya dalam organisasi, bagaimana pengaruh kultur terhadap dinamika dan relevansi organisasi itu sendiri? Dan masih seabreg pertanyaan, yang setiap kali mencoba dirumuskan secara definitif. Ketika usaha itu dilakukan, seringkali dan selalu mengalami kebuntuan.

Tulisan ini bukanlah hendak merespon satu arus wacana dan diskusi besar yang sementara ini terjadi pada akhir-akhir ini. Karena memang sedang tidak ada satu tema khusus perbincangan di PII yang khas dan butuh perhatian. Namun, tulisan ini hendak memotret perbincangan yang terjadi di Sarasehan Instruktur se-Jawa kemarin di Yogyakarta dari tanggal 14 – 17 Maret 2009. Memang, tidak ada perbincangan spesifik tentang kultur PII, tapi dalam setiap setiap tema diskusi, sebenarnya kita tidak atau belum bisa melepaskan sekat kultur dan sistem di PII. Yang menarik adalah perbincangan tersebut terjadi di forum instruktur, yang kita tahu bahwa forum instruktur adalah forum elite di PII. Mengapa elite? Ya, setiap kader PII butuh minimal 4 tahun untuk mencapai posisi, di struktur PII dan menjadi instruktur sehingga bisa ikut hadir dan berbicara dalam forum tersebut.

Sebagai contoh, ketika perbincangan penentuan koordinator tim intra regional se-Jawa kemarin, akhirnya mengalami deadlock karena masing-masing wilayah (PW) memiliki cara yang berbeda yang sementara ini dilakukan. Misal, kalau menggunakan cara Jogja, kita hanya kumpul 10 menit sesama instruktur, yang biasanya menyela saat pleno berlangsung, terjadi perbincangan sebentar, muncul kesepakatan, maka jadilah siapa koordinator tim dalam training tertentu, selesai sudah. Yang tidak terjelaskan memang kita biasa melakukan perbincangan dan terjadi kesepaatan dalam training sebelumnya siapa yang akan menjadi koordinator tim training selanjutnya, yang perbincangan tersebut memang terjadi tidak pada saat momen formal, namun mengalir dalam sesi diskusi ringan. Di Jogja, pembibitan koordinator training dilakukan sejak awal dan pertama dia ikut terlibat dalam training, jadi memang ada banyak hal yang tidak bisa dilihat hanya dalam momen formal, namun kultur training di Jogja mengkondisikan kepada setiap instruktur untuk siap setiap saat menjadi koordinator tim training.

Tapi, jika kita menggunakan kebiasaan di beberapa wilayah lain, misal Jawa Timur yang harus detail dan rigid dalam menentukan koordinator tim training. Jelas latar belakang dan penjenjangan pengalaman trainingnya. Ada uji kelayakan dan kemampuan koordinator tim dengan membuat desain training, diuji didepan forum instruktur, baru bisa ditentukan siapa yang layak memegang jabatan koordinator tim. Belum wilayah lain yang hampir mirip sama, koordinator tim membuat desain training dulu baru ad coaching instruktur.

Bukan persoalan yang mendasar, jika kita memotret dari sudut pandang dinamika oganisasi itu sendiri. Bahwa kultur memang merupakan bentuk respon kader, sebagai dorongan alam, berjuang untuk mencapai penghidupan yang lebih sempurna. Dalam setiap usaha, akan nampak dinamika organisasi yang tidak terlebas dengan tradisinya untuk menentukan visi dan prosesnya. Kultur dalam hal ini sebagai penjelmaan cita-cita dan kerja manusia. Sebagai usaha organisasi menuju perbaikan, kultur menjadi motor dan dinamisator yang bergerak menuju kesempurnaan. Merupakan hasil dari kecerdasan, ilmu dan pengetahuan, pengalaman dan masalah yang dihadapi, bergumul dalam satu tujuan dan cita-cita mencapai derajat yang lebih tinggi.

Namun jika dikaitkan dengan respon organisasi dalam menangkap tanda-tanda zaman, akan kelihatan bahwa dinamika kultur itu sendiri seharusnya berjalan sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam menjawab persoalan dan tantangan organisasi. Yang sering disalah artikan adalah ketika kita berbicara reformasi, perubahan perilaku organisasi maka kultur juga harus dirubah. Nah, saya kira harus ada penjelasan terlebih dahulu tentang berbagai inti organisasi sehingga kita bisa meletakkan sebenarnya kultur posisinya dimana?

Jika kita mempelajari sejarah manusia atau meneliti kompleksitas masyarakat – juga kompleksitas PII, kita akan menemukan gambaran yang jelas bahwa dalam setiap masyarakat selalu ada dan memiliki unsur-unsur yang tetap dan tidak pernah hilang. Karena jika salah satunya hilang maka akan tercerai berai masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini, pertama kita bisa mengacu pada pemikiran Hegel (1770-1831) dan Marx (1818-1883) sebagai alat membaca unsur-unsur masyarakat (organisasi)

Hegel menyatakan bahwa proses yang terjadi dalam masyarakat itu disebabkan karena dorongan ide dan cita-cita. Ide dan cita itulah yang menggerakkan orang, masyarakat dan organisasi bergerak. Juga ide dan cita itulah yang menyebabkan orang, masyarakat dan organisasi mengalami perubahan.

Jika kita perhatikan sejarah Isalam Indonesia, bahwa ulama, pemimpin, sultan dan masyarakat, dengan ide dan cita-cita mereka itulah yang menyebabkan Islam tersiar diseluruh Indonesia. Juga dalam tradisi tabligh yang mempengaruhi setiap aktifis dan kader Islam adalah ide dan cita-cita mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, atau dalam bentuk kongkrit kita hendak mewujudkan kesatuan imamah dan persatuan umat Islam1. Kalau dalam sejarah Islam Indonesia, Islam menyebar ke seluruh nusantara bukan karena kapal-kapal dari Gujarat dan Cina yang kebetulan sekali kepulauan Indonesia berada ditengah-tengah perjalanan. Jadi sekalian mampir, berhenti sejenak sambil menyebarkan Islam. Namun ada faktor kesengajaan bahwa Islam harus disebarkan sampai dimana kaki kuda itu berhenti. Maksudnya ide dan cita-cita Islam adalah menyebarkan sampai keseluruh penjuru dunia dan sepanjang hayat.

Sebaliknya Marx menyatakan bahwa proses dalam masyarakat dan organisasi itu adalah karena proses ekonomi. Cara orang mencari kebutuhan hidup itulah yang menyebabkan orang, masyarakat dan organisasi mengalami perubahan, juga dalam ide dan cita-cita. Dalam hal ini bisa kita lihat dalam beberapa sejarah Islam Indonesia yang menyatakan bahwa perdagangan yang begitu menarik dan menguntungkan ke dunia Timur itulah yang menyebabkan Islam tersiar di kepulauan nusantara ini. Juga memang jauh sebelum Islam muncul dan berkembang di Arab, Indonesia sudah menjadi jalur perdagangan dan merupakan pusat perdagangan itu sendiri diantara pusat perdagangan di Timur (India dan Cina) dan Barat (Eropa).

Jika kita baca tarich Muhammad, kita juga akan mendapati bahwa munculnya Islam (sebagai idealita2) dipengaruhi dan dipicu oleh struktur sosial masyarakat Arab yang sangat kacau waktu itu. Muhammad dalam ber-tahanust­-nya di gua Hira sangat mengkhawatirkan berbagai persoalan yang sangat pelik di masyarakat Arab. Konflik sosial, pertentangan kelas, kecemburuan sosial, kemiskinan, perbudakan, kebodohan dan keterbelakangan masyarakat yang sangat kompleks dan akut yang setiap saat bisa memunculkan disintegrasi sosial. Jadi menurut saya teorinya Marx tentang perubahan sosial yang disebabkan oleh struktur dan proses sudah ada jauh saat Muhammad sebelum menjadi Nabi.

Dalam setiap perubahan dan usaha memang selalu mewujud dalam model yang beda, barangkali proses ekonomi pada awalnya, namun dalam perkembangannya mengalami pergeseran menjadi proses politik dan sosial. Namun, kesemuanya itu mengacu pasa struktur masyarakat. Bahwa strukturlah yang menggerakkan dan merubah masyarakat. Kita bisa melihat misal cita-cita HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang bercita-cita menujudkan khilafah islamiyah dan hal tersebut mengacu pada apa yang pernah ada pada zaman Nabi. Nabi Muhammad memang berhasil membentuk struktur sosial dan agama yang palng gemilang dan belum ada sesudahnya sampai sekarang.

Struktur sosial inilah yang terus menerus mereproduksi ide dan cita-cita. Seperti PII saat ini, karena sebenarnya, kader PII sudah tidak bisa menangkap ide dan cita, maka struktur lah yang mencoba direproduksi terus. Atau dalam perbincangan Muktamar, yang selalu diributkan adalah struktur, dan struktur lah yang menentukan arah dan bentuk perjuangan kader PII. Semisal kita hendak mendirikan PD baru, yang kita bicarakan adalah struktur dulu atau ada kegiatan dulu. Jadi alam bawah sadar kita sebenarnya terkotak dalam wadah dan logika struktur dan proses. Yang kita lakukan seperti dalam psikoanalisisnya freud bahwa kita berorganisasi berdasarkan ego. Atau dalam perspektif sosiologi Durkhemian bahwa perubahan sosial itu terjadi oleh kelompok, maksudnya kelompoklah yang menentukan arah dan masa depan manusia. Artinya bentuk kita adalah selalu merespon dan dipengaruhi oleh faktor dari luar dan mencoba memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Tidak ada yang salah dengan dua pendapat diatas, namun jika salah satunya mencoba dikembangkan akan terasa berat sebelah. Jika pada pertama diutamakan, yaitu mendahulukan ide dan cita maka organisasi dan kader kita akan menjadi utopia atau berada dalam ruang imajiner. Namun jika pada model kedua yang didahulukan, yaitu dengan mewujudkan struktur dan proses maka organisasi dan kader kita cenderung berfikir praktis dan pragmatis dalam menyelesaikan persoalan.

Tidak ada salahnya dalam perdebatan dua model alat analisis tersebut kita mengacu pada beberapa matan hadis. Pertama, bahwa faktor penentu dalam perilaku kita adalah hati, jika hati kita buruk maka buruklah perilaku kita, begitu juga sebaliknya. Kedua, dalam hadis lain dinyatakan bahwa segala sesuatu, atau nilai perbuatan manusia ditentukan oleh niat dan motivasinya. Jadi hati (niat dan motivasi) lebih baik dari perbuatan. Hadis tersebut menjelaskan kepada kita bahwa ide dan cita-cita yang menentukan segala-galanya. Ketiga, dalam hadis lain dijelaskan kepada kita bahwa kefakiran dan kemiskinan lebih mendekatkan kita kepada kekufuran. Keempat, bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tua dan lingkunganlah yang menyebabkan anak itu menyimpang dari fitrahnya, apakah si anak akan menjadi yahudi, nasrani atau majusi. Ide dan cita-cita harus diterjemahkan dalam bentuk kongkrit menjadi struktur (komunitas) dan ada aksi sebagai dialektika dan proses manusia itu sendiri.

Dengan menggunakan perspektif kosmologi, perubahan dan dinamika alam semesta ditentukan oleh keteraturan dan keseimbangan diantara berbagai sistem yang ikut dan menjadi bagiannya. Logika kausalitas (hubungan sebab akibat) sangat menentukan dalam perubahan dan dinamika berbagai elemen yang menjadi bagian dari alam. Misal, jika hutan rusak maka akan muncul banjir dimana-mana, atau jika manusia lapar maka untuk menghilangkan lapar ya makan. Dorongan dasar dari keterikatan biologis inilah yang mempengaruhi bergeraknya manusia.

Untuk menjaga keteraturan itulah dibutuhkan aturan, norma dan etika agar tetap seimbang. Kebutuhan itu dikarenakan manusia memiliki potensi nafsu, atau ego. Dorongan nafsu atau ego inilah yang harus dikendalikan dan diatur agar tidak menimbulkan kekacauan. Freud mengistilahkan sebagai super ego yang merupakan integrasi antara ego dan norma. Hal ini mewujud dalam keseharian dan kehidupan nyata yang pada akhirnya nanti menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat (kultur masyarakat). Agar norma dan aturan dalam masyarakat tidak mudah hilang dan mampu terus mereproduksi dirinya, yang dibutuhkan adalah norma yang tidak berasal dari diri dan lingkungan manusia, namun norma harusnya dari luar yang sifatnya lebih universal dan transenden. Sehingga untuk mengendalikan manusia dari ego peran agama lah (Islam) yang paling tepat.

Selain keempat unsur diatas, yang merupakan tafsir dari agama (baca: Islam) unsur organisasi dan masyarakat yang lain adalah harus ada adalah, pertama, pemimpin, aktor intelektual, ulama atau tokoh organisasi dan tokoh masyarakat. Pentingnya aktor intelektual karena memiliki kemampuan menafsirkan agama dan bentuknya yang paling kongkrit di masyarakat. Seringkali kita tidak bisa serta merta menggunakan berbagai pemikiran dan luar karena persoalan yang dihadapi berbeda. Dan dalam banyak sisi, tafsir ini diperlukan karena ide, aksi dan komunitas sebagai turunan dari agama selalu memiliki titik relevansi sesuai dengan kondisi zaman yang ada waktu itu. Dalam kajian sosiologi, ulama menempati posisi sebagai cultural broker (Eric Wolf – 1956 dan Geertz – 1960), yang bertugas sebagai perantara budaya, karena merekalah yang menjadi penjaga simpang yang sulit yang menghubungkan sistem lokal dan sistem yang lebih luas, Horikoshi (1978), misalnya, menunjukkan kekuatan ulama sebagai sumber perubahan sosial, bukan saja pada masyarakat pesantren tapi juga pada masyarakat di sekitarnya.

 

Siapa yang berposisi di PII sebagai ulama? Menjawab pertanyaan ini sangat susah, karena memiliki landasan, cara pandang dan konsepsinya berbeda. Namun, satu hal yang menurut saya menarik adalah tradisi regenerasi dan penjenjangan yang teratur di PII yang memungkinkan semua kader memiliki kapasitas yang lebih dari kader yang memiliki jenjang dibawahnya. Hal ini cukup beralasan manakala kita bisa bahwa penjenjangan – apakah itu dari struktur atau jenjang training – menyaratkan kompetensi dan kemampuan kader yang terus meningkat. Memang akhir-akhir ini secara kualitas kader PII menurun, bukan karena struktur atau kaderisasinya yang sudah tidak relevan, salah jadi harus diganti, namun pada banyak kasus, ternyata kader PII itu sendiri secara kualitas terus menurun. Sampai sekarang, kita selalu memaklumi penurunan grade kader dalam struktur dan instruktur, jadi jangan salah manakala kualitas PII secara umum juga ikut menurun.

 

Berbekal pengalaman dan pengetahuan yang tentunya terus berkembang dan bertambah, setiap kader yang akan naik ke jenjang berikutnya akan memiliki kemampuan analisa dan pemetaan jenjang dibawahnya. Pada wilayah inilah struktur PII yang lebih tinggi bisa difungsikan sebagai perantara budaya dan struktur – atau minimal sebagai tempat bertanya – antara struktur diatas dan dibawahnya. Apakah menyangkut persoalan yang ada atau bersama-sama merumuskan PII mendepan. Otoritas inilah yang seharusnya dilaksanakan oleh institusi diatas, yang bersama-sama eselon dibawah melakukan perubahan sosial masyarakat pelajar.

 

Munculnya gap diantara eselon PII yang ada seringkali juga menimbulkan persoalan yang pelik untuk diselesaikan. Adanya dialog, komunikasi dan silaturahim diantara berbagai eselon saya kira bisa menjembatani berbagai persoalan yang ada. Akan lebih efektif proses saling memahami ini jika ada kerjasama diantara keduanya, yang tentunya berjalan sejajar.

 

Kultur, sebagai proses dinamika dan dialektika dan interaksi manusia dengan diri dan factor luar (lingkungan dan agama) bisa kita pandang sebagai hal yang alamiah. Jadi akan selalu menemukan bentuk yang berbeda-beda di setiap tempat dan zaman. Dalam prosesnya akan sampai pada bentuk puncak dan menemukan lokal wisdom, lokal jenius, dalam bentuk yang paling bijaksana. Nah, disitulah kultur mengalami pembakuan karena sudah menyatu dengan institusi dan lembaga sosial yang ada. Memang, pada gilirannya nanti akan menjadi sangat konservatif, bahwa kultur adalah kebenaran dan perlu lestarikan dan dianut oleh kader PII selanjutnya.

 

1 Kita bisa menemukan cita-cita PII ini di Piagam Jakarta yang selalu dibacakan saat pelantikan pengurus baru dan saat akhir training.

2 Kita bisa menemukan cita-cita PII ini di Piagam Jakarta yang selalu dibacakan saat pelantikan pengurus baru dan saat akhir training. Jadi piagam jakarta PII adalah bentuk pengakuan bahwa kita sepakat dan sangat dipengaruhi oleh teori sosialisme perubahan sosial Marx.

Sunano

pertama dari dua tulisan

Adakah tradisi intelektual di PII ?

Posted: November 28, 2009 in refleksi

Adakah tradisi intelektual di PII,

Pendahuluan.

Akhir-akhir ini kita (baca: kader PII) dihadapkan pada berbagai persoalan bangsa yang semakin rumit. Namun sekali lagi kita hanya bisa menonton dan menunggu perubahan dan perbaikan bangsa. Coba kita rumuskan bersama-sama persoalan bangsa ini yang sedang dan bisa kita rasakan bersama. Pertama, pada persoalan kebudayaan, kita dihadapkan pada model kebudayaan transnasional yang homogen. Maksudnya, kita digiring untuk bersuara sama pada level paradigma, kebijakan dan operasional (cara berfikir, keputusan dan perilaku kita). Misal pada salah satu hasil Muktamar Nasional ke 26 di Pontianak adalah menyepakati point-point yang termaktub dalam rekomendasi eksternal. Pada level kebijakan kita sepakat berbagai point yang tercantum pada rekomendasi eksternal, namun pada level paradigma dan operasionalnya kita masih lemah, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan adalah mengapa kita lemah di level paradigma dan operasional?

Persoalan pertama yang kita hadapi dalam membangun paradigma adalah tidak adanya integrasi antara bahan mentah dan ilmu alat. Bahan mentah kita memang sangat erat terkait dengan kenyataan bahwa kita sebagai umat Islam di Indonesia masih tergolong sangat muda. Berbeda dengan bangsa-bangsa di Timur Tengah, India dan Eropa, yang tergolong sangat tua, karena sejak awal menyebarnya agama Islam dari jazirah Arab adalah ke Asia sampai India, ke Afrika dan sampai Eropa khususnya di Andalusia. Jatuhnya India ke tangan orang Islam ditandai dengan ditaklukkannya Lembah Sungai Indus oleh bangsa Arab pada tahun 711 M, tepatnya pada masa Bani Umayyah di Damaskus. Namun pada masa itu adalah masa kejayaan agama Hindu yang dianut kerajaan Mataram Kuno di Jawa dan agama Budha yang dianut kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Kerajaan Majapahit di Kediri malah lagi jaya-jayanya pada abad ke 13 M, yang waktu itu di India utara sudah berdiri kesultanan Delhi yang didirikan pada tahun 1206 M dan Islam sudah membentang dari semenanjung India sampai jauh masuk ke jantung Eropa.

Persoalan bahan mentah berkaitan dengan penjelasan diatas adalah bahwa kita memiliki kesenjangan kebahasaan – tidak banyak orang Islam di Indonesia yang menguasai bahasa ibu, juga bahasa-bahasa yang digunakan oleh kepustakaan Islam (bahasa Arab dan Persia). Yang sekarang ini berkembang di kader PII adalah kecenderungan belajar bahasa Eropa, yang notabene merupakan bahasa pengantar ke dua jika kita mau belajar kepustakaan Islam. Parahnya lagi, kebiasaan membaca dan mencintai buku juga semakin melemah di kader-kader PII. Jika kita perhatikan beberapa pakar cendekiawan Islam dulu, selain mereka ahli di salah satu bidang ilmu pengetahuan, mereka juga mengusai berbagai keilmuan yang lain. Semisal Ibnu Sina, selain ahli kimia, beliau juga ahli kedokteran, ahli ilmu kalam, ahli hukum Islam. Berbagai studi keilmuan yang ada terintegrasi pada satu pribadi cendekiawan Islam waktu itu. Nah, sekarang ini, yang berkembang diberbagai kelompok Islam adalah spesialisasi keilmuan. Kekurangan penguasaan terhadap berbagai ilmu yang ada menyebabkan berbagai analisa yang dilakukan seringkali tidak komprehensif.

Kembali pada kondisi umat Islam di Indonesia yang memang masih muda, berbagai tradisi keilmuan juga memang masih muda. Jika kita perhatikan berbagai perdebatan intelektual yang terjadi di Internal umat Islam di Indonesia juga sangat jarang. Kita hanya bisa mencermati saat terjadi perdebatan di Aceh pada abad ke-17 M, antara Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasai yang mengajarkan dan menulis syair-syair tasawuf aliran wujudiyyah. Karya besar tersebut mendapat tentangan besar dari seorang pemikir yang tidak kalah wibawanya Syaikh Nuruddin Ar Raniri yang berasal dari India seperti juga temannya dari India Syaikh Ahmad Sirhindi yang mengajarkan aliran Syuhudiyyah.

 

Juga kita bisa mencermati perdebatan antara Wali Sanga dan Syaikh Siti Jenar, yang dimasyurkan sebagai eksponen wujudiyyah di Jawa, kita pandang sebagai hidupnya pemikiran Islam. Walaupun ditutupi dengan berbagai mitos dan meskipun berakhir dengan tragedi terbunuhnya Syaikh Siti Jenar (wakil legenda Sunan kali Jaga)

Apabila kita beranjak pada abad ke-19 M, dimana terjadi benturan hebat antara kebudayaan industri yang baru lahir di Eropa dan kebudayaan setempat yang telah di-Islam-kan, maka kita temui paling tidak ada 3 gerakan rakyat. Pertama, adalah Pangeran Diponegoro di Jawa. Kedua, perang Padri di Sumatra Barat. Ketiga, perlawanan rakyat Aceh. Pada ketiga perang ini unsur Islam sangat menonjol. Malah pada perang Padri, ada sangkut pautnya peristiwa-peristiwa lain di dunia Islam. Rasanya, tidak mungkin menggerakkan rakyat untuk peperangan yang tidak begitu lama (5 tahun di Jawa, belasan tahun di Sumatra Barat dan puluhan tahun di Aceh) hanya karena semata-mata tidak senang (pada persoalan perang Diponegoro malah persoalan makam yang mau digusur, padahal tanah di Jawa waktu itu sebagian besar masih berupa hutan)

Di abad 20 M, gejala yang menunjukkan adanya pemikiran Islam di Indonesia ditandai dengan kemunculan Sarekat Islam (SI) Muhammadiyah, dan Nahdatul Ulama (NU). Debat antara M. Natsir dan Ir. Soekarno tentang hubungan agama dan negara, diskusi hangat pada panitia persiapan kemerdekaan Indonesia tentang soal dasar negara, yang diteruskan di konstituante 10 tahun kemudian. Nah sejak itu, kita (baca: umat Islam Indonesia) hanya bisa menghasilkan karya-karya yang elementer, bukan pemikiran dan perenungan yang mendalam.

 

Walaupun sebenarnya dialektika, dinamika dan perkembangan pemikiran Islam di Indonesia pasca kemerdekaan juga cukup besar. Kita bisa melihat banyaknya gagasan cerdas dari berbagai elemen masyarakat waktu itu, khususnya dalam perumusan landasan gerak dan arah perjuangan bangsa Indonesia. Perdebatan Piagam Jakarta waktu itu bukanlah perdebatan pada ruang kosong, namun merujuk pada sejarah bangsa Indonesia yang penuh dengan upaya mewujudkan tatanan masyarakat yang Islami. Pada dekade tahun 70-an mulai menggeliat wacana dan pemikiran agama lewat gagasan Nurcholish Madjid dengan sekularisasi Islam. Nurcholish menawarkan bagaimana membangun kejayaan Islam dengan kembali mengjaki turats sehingga rancang bangun maqosid asy syariah memiliki pondasi yang kuat.

 

Dilanjutkan gagasan almarhum Kuntowijoyo lewat gagasan yang disebutnya “ilmu sosial transformatif” atau “ilmu sosial profetik”. Mengapa ia yakin perlu membangun “paradigma” baru ilmu sosial yang tepat untuk umat Islam ini, karena sejak awal ia meyakini bahwa ilmu itu bersifat relatif, atau dalam bahasa Thomas Khun “paradigmatik”. Ilmu itu juga bersifat ideologis (Marx), dan bersifat cagar bahasa (istilah Wittgenstein). Bagi kang Kuntowidjoyo, membangun ilmu sosial yang Islami adalah sah. Dengan kandungan nilai-nilai humanisasi, liberasi dan transendensi, ilmu sosial profetik diarahkan untuk merekayasa masyarakat menuju cita-cita sosio-etiknya di masa depan. Oleh karena itu secara umum bahwa istilah “transformasi” yang dipakai kang Kunto, lebih tepat kita sebut “perubahan sosial” seperti yang sering muncul dalam khasanah ilmu sosial Durkheimian maupun Parsonian. Oleh karena itu secara global ”transformasi”nya Kuntowijoyo hampir sama dengan “etos kerja”nya Nurcholish, yaitu suatu entitas yang mengacu pada perubahan sosial melalui modernisasi. Hanya bedanya titik tolak teori sosial yang dipakai berbeda.

 

Memang, melanjutkan diskursus dan pengkajian yang lebih mendalam berbagai persoalan bangsa dan keumatan masih menjadi kendala yang cukup serius di internal umat Islam. Apakah lewat kampus, pewarisan tradisi ini bisa berjalan? Belum sepenuhnya benar, apalagi melihat kenyataan akhir-akhir ini, kampus semakin tidak produktif melahirkan tokoh dan cendekiawan muda Islam. Dalam tradisi intelektual di Indonesia, posisi pelajar menjadi sangat sentral karena, pertama, pelajar sangat antusias dalam mempelajari ilmu dan tempat persemaian tradisi keilmuan yang sangat evektif. Hal tersebut dikarenakan baik karena dorongan factor eksternal, maupun motivasi dari dalam.

 

Kedua, bagi kalangan intelektual Islam di Indonesia, pelajar menjadi tempat yang sangat evektif untuk mensosialisasikan berbagai gagasan mereka. Lewat pelajar, gagasan dan cita-cita Islam mencoba ditumbuh kembangkan. Nah, kemampuan adopsi dan inovasi berbagai keilmuan oleh pelajar inilah yang nantinya akan menjadi basis, pondasi untuk menentukan model gerakan, dan perjuangan baru. Pelajar juga sangat potensial sebagai bibit mengukuhkan dan tempat ideologisasi berbagai paham, aliran keilmuan dan keyakinan kelompok. Dalam hal inilah, posisi pelajar menjadi sangat strategis, juga harus menjadi perhatian kita bersama, bagaimana mendidik dan mencerdaskan pelajar agar tidak terjebak dalam pemahaman dan keyakinan yang salah dan keliru. Dalam hal inilah peran PII menjadi sangat relevan untuk dan senantiasa dibutuhkan.

 

Melihat Dari Dekat.

Mari kita fokuskan pada dialektika, dinamika dan perkembangan pemikiran Islam di tingkat pelajar, khususnya kita coba memotret PII dari dekat. Dalam sejarah PII kita mengenal Yusdi Ghozali dan kawan-kawan merumuskan PII dengan tujuan yang sangat revolusioner bahkan sampai saat ini. Tujuan PII yang dilatarbelakangi ingin mempersatu- kan pelajar sekuler dan santri sarungan lewat jargon “mengintelekkan kyai dan mengkyaikan intelek”. Gagasan ini bukan hanya integrasi dan interkoneksi antara paradigma dan operasional pribadi seorang kader umat, namun lebih dari itu, dengan gagasan tersebut akan melahirkan transformasi pemikiran dan kebudayaan Islam yang sangat luar biasa. Kalau kita mencoba meninjau keluar, gagasan ini malah baru muncul di dunia kampus pada awal tahun 2000-an yang dimotori oleh IAIN dengan aktor intelektualnya antara lain Prof. Dr. Amin Abdulah (Rektor UIN sekarang) dan Prof. Dr Machasin (Kepala Dirjen Dikti Depag).

 

Di PII, gagasan integrasi dan interkoneksi antara ilmu umum dan ilmu agama dimulai sejak awal perintisan yang mencoba mengintegrasikan berbagai studi keilmuan di pesantren dan sekolah umum. Paradigma inilah yang menghantarkan PII sukses memimpin usaha pelajar dalam mewujudkan kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan bangsa Indonesia yang paling ideal. Pada level kebijakan dan operasional waktu itu, PII adalah selalu berada di barisan paling depan dalam perjuangan melawan kebodohan dan disintegrasi keilmuan berdasarkan etos kerja dan semangat perubahan yang mendasar.

 

Sangat terasa, bahwa paradigma integrasi ilmu di kalangan pelajar, antara santri dan pelajar sekuler, membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Kita bisa melihat bahwa pelajar selain mampu berfikir jauh kedepan juga sangat islami dalam perilaku kesehariaannya. Juga pada kalangan santri yang tidak lagi berfikir konservatif, namun mampu menyelesaikan berbagai persoalan kemuatan ditingkat paling praktis di masyarakat. Semangat dan kekuatan integrasi di PII awalnya menjadi sangat revolusioner karena berangkat dari tafsir Al-Qur’an, khususnya pada Q.S. Ali Imran ayat 103. Dalam tradisi gerakan sosial, manakala gerakan sosial dibangun berdasarkan tafsir dari dogma akan memiliki kekuatan (ideology) nilai-nilai dan keyakinan yang luar biasa.

 

Semangat dan gagasan yang luar biasa bisa kita lihat pada rumusan awal PII tanpa ikatan, dihimpun, persatuan dan lain-lain agar tidak timbul konotasi kelompok atau gerakan yang menghimpun kekuatan, tapi lebih merupakan sarana pemuda atau pelajar untuk membina pribadi dan mengembangkan potensi sehingga akan mampu memahamkan bahwa PII adalah milik seluruh pemuda pelajar Islam serta umat Islam. Dan sebagai upaya menghilangkan dikotomi antara pelajar dan santri. Dengan gagasan tersebut, PII bisa masuk dan diterima disemua kalangan. Dan dengan cita-cita tersebut, berbagai organisasi lokal akhirnya berkeinginan melakukan fusi dengan PII.

Penyatuan dan keinginan berbagai organisasi lokal pelajar untuk melakukan fusi memiliki keunikan sendiri. Bagaimana PII mampu diterima dan memiliki peran penting diantara berbagai organisasi pelajar lokal? Dalam banyak kasus gagasan fusi adalah adanya keinginan dari dua organisasi ditandai oleh upaya mengurangi perbedaan-perbedaan di antara mereka demi meningkatkan kesatuan tindak dan sikap untuk mencapai tujuan bersama. Apabila kelompok-kelompok dan organisasi akan mengadakan fusi, maka mereka akan mengidentifikasi dirinya sebagai satu kelompok yang baru. Faktor-faktor yang yang mempercepat fusi dari berbagai organ yakni faktor toleransi, kesempatan-kesempatan di bidang sosial-ekonomi yang seimbang, sikap menghargai orang “asing” dan kebudayaan mereka, sikap terbuka dari organisasi dominan terhadap organisasi subordinan, persamaan unsur kebudayaan, dan adanya musuh bersama.

 

Nah, pada kasus PII apa yang menyebabkan munculnya fusi? Seperti kecenderungan organisasi waktu itu untuk menghadapi musuh bersama dengan adanya ancaman kemerdekaan bangsa Indonesia karena Belanda kembali menginginkan untuk menjajah, apakah juga menjadi factor yang menentukan dari adanya fusi di PII?

 

Kembali pada pertanyaan awal, bahwa mempersatukan berbagai studi keilmuan (ilmu agama dan ilmu umum) adalah satu hal yang niscaya dan harus dilakukan. Mengingat perpecahan dan benturan keilmuan pada waktu itu sudah sangat mengkhawatirkan. Berbagai faksi yang mengelompok dalam institusi pendidikan formal sama-sama memiliki legitimasi

 

Gagasan ini memang bukan hal yang baru. Namun, dalam prakteknya, kecenderungan berfikir dogmatis dan konservatif menyebabkan mandeknya dialektika dan perkembangan pemikiran kearah yang lebih maju. Kekacauan berfikir kader PII bisa kita lihat dari kecenderungan memperdebatkan hal-hal itu-itu saja, contoh: pertama, masalah yang dibicarakan hampir itu-itu juga; kalau tidak soal aturan hukum, maka kebanyakan adalah soal-soal politik kekuasaan. Kedua, metode pembicaraan juga masih sama; bagaimana hukumnya soal ini dan itu, bagaimana pandangan atau konsep Islam tentang suatu pokok pembicaraan. Ketiga, dalam pemikiran Islam diletakkan hanya sebagai penilai, tukang timbang atau paling jauh soal putus perkara. Mau ikut disalahkan dapat dosa, tidak mau ikut tanggung sendiri. Keempat, hampir tidak pernah kita berusaha mencari perspektif-perspektif baru, apalagi yang sama sekali belum dijelajahi.

 

Dengan cara berfikir tersebut, jika kita tarik ke bahan mentah yang dimiliki kader PII memang masih sangat jauh.

Sebenarnya, siapa pahlawan di PII….?

Posted: November 28, 2009 in refleksi

Merenung dan berfikir kembali sejenak sebagai risalah untuk menyelami dan menemukan hakekat perjalanan PII menjelang HARBA ke 63 patut kita lakukan. Terutama kembali kepada awal mula berdirinya PII yang sudah banyak dilupakan kader-kader PII. Kiranya, tidak ada salahnya kita mencoba menelusuri sejarah di daerah-daerah, bagaimana awal perintisan, tumbuh berkembang dan mengalami titik puncak keemasan PII. Yang kalau kita perhatikan akhir-akhir ini PII terus menerus menurun dan sedang menapaki grafik landai.

Semalam1 saya menonton film Cut Nyak Dhien yang dibintangi Kristin Hakiem, yang menurut saya, film kolosal Indonesia tidak kalah bagusnya dan mampu bersaing dengan film kolosal Jepang, Cina, Eropa dan Amerika. Ada satu dialog yang menarik dari film Cut Nyak Dhien yang disampaikan oleh Tengku Meulaboh ketika menyerahkan masakan oseng kering (emas) kesukaan Cut Nyak “kalau orang Aceh sudah mufakat, kuburan pun akan digadai untuk mendanai perjuangan rakyat”. Bagi saya luar biasa film tersebut, dan saya kira setiap daerah punya cerita sendiri sejarah perjuangan rakyat yang patut kita ulas dan diceritakan kembali agar tidak dilupakan oleh kader-kader Islam dimasa yang akan datang2. Seperti beberapa waktu yang lalu, kalangan pendidikan Indonesia pada umumnya dan kalangan Muhammadiyah pada khususnya heboh dan terkejut dengan munculnya novel dan film Laskar Pelangi.

Lewat film Cut Nyak Dhien3, saya kembali mengenang bagaimana Aceh atau lebih tepatnya PERPIINDO (Persatuan Pelajar Islam Indonesia) yang berpusat di Kutharaja Aceh, dan salah satu laskarnya Tentara Pelajar Islam Aceh (TPI Aceh) setelah menyelesaikan tugas negara mengangkat senjata melawan agresi Belanda, akhirnya bergabung dengan PII pada Konggres ke III di Bandung pada tanggal 23-31 Maret 1950. Pada saat Konggres PII ke III di Bandung inilah menghasilkan kesepakatan dan pencapaian PII yang luar biasa dengan banyak organisasi lokal bergabung ke PII. Selain dari PERPIINDO juga ada Persatuan Pelajar Islam (PPI) yang berpusat di Makasar, PII Jakarta Raya yang secara organisatoris belum tergabung dalam organisasi PII yang berusat di Yogyakarta, dan juga dibukanya cabang PII baru di Ternate.

Kalau kita buka kembali catatan dari majalah Tunas yang didirikan PII tahun 1948, maka pada tahun 1951 PII sudah menjadi organisasi pelajar terbesar di Indonesia, atau bahkan terbesar se Dunia. Daerah dan Cabang PII tersebar dari Aceh sampai Ternate, tidak kurang jumlahnya 127 buah dengan jumlah anggota 127.000 orang. Angka yang cukup fantastis dalam pencapaian target perkembangan PII selama 4 tahun sejak berdirinya.

Kembali pada PERPIINDO yang ada di Aceh, jauh sejak zaman penjajahan Belanda, Rakyat Aceh telah bersatu padu untuk berjuang mengusir penjajahan. Memang yang namanya penghianatan, penyerahan tidak pernah sepi dari setiap perjuangan. Namun, hampir tiap tahun rakyat Aceh selalu memberikan perlawanan yang hebat ke Belanda. Kesatuan perjuangan pemuda Aceh diawali dengan berdirinya PUSA4 (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang berbasis di dayah (pesantren di Jawa dan Surau di Minangkabau)5 dan Pemuda Muhammadiyah, yang merupakan penggerak perjuangan pemuda Aceh. Kemudian disusul dengan berdirinya GAPIDA (Gabungan Pelajar Islam Daerah Aceh), yang dimotori oleh Pelajar Normal Islam Bireuen. Dalam waktu singkat, GAPIDA telah meliputi seluruh Aceh dan memiliki kekuatan penggerak yang besar, juga sebagai tulang punggung bagi regenerasi kedua organisasi sebelumnya.

Maka lengkaplah ketiga kesatuan di Aceh yang saling mengisi berbagai lapisan masyarakat dari pelajar, pemuda dan ulama. Ketiganya saling menopang dan menguatkan perjuangan rakyat Aceh. Sejak zaman penjajahan fasisme Jepang, hampir semua organisasi diawasi oleh kempetai, dan tentara rahasia Jepang. Ada tindakan mencurigakan sedikit saja langsung di bubarkan dan semua pimpinannya dipenjarakan. Dalam banyak kasus di seluruh daerah di Indonesia, fisisme Jepang lebih mengerikan dari Belanda.

Satu potensi luar biasa rakyat Aceh adalah dengan adanya GAPIDA yang merupakan organisasi pelajar, sehingga tidak banyak dicurigai oleh kalangan kempetai. Berbagai peran strategis dan bahkan usaha-usaha yang biasanya dilaksanakan oleh para pemuda dan ulama, diambil alih dan dilimpahkan ke kalangan pelajar. Hal ini dikarenakan setiap usaha pelajar tidak begitu dicurigai dan membahayakan fasisme Jepang. Usaha-usaha guna menginsyafkan masyarakat tentang arti penting kemerdekaan juga banyak dlakukan oleh kalangan pelajar, yang antara lain menggelar pertunjukan sandiwara dengan lakon ”Perjuangan Tkg Chik Di Tiro” yang merupaka epos, simbol dan pahlawan rakyat Aceh dalam perjuangan melawan dan puluhan tahun mempertahankan tanah rencong dari penjajahan Belanda. Juga lakon ”Perjuangan Mahatma Ghandi” dengan cita-citanya memperjuangkan kemerdekaan India.

Dengan cara demikian, pelajar Aceh mencoba menggambarkan bagaimana sengsaranya penjajahan, bagaimana menderitanya dijadikan pekerja paksa oleh orang asing, bagaimana menjadi buruh di tanah sendiri, dan mampu merasakan bagaimana indahnya dan sejahteranya menjadi tuan rumah sendiri dan menjadi orang merdeka. Hal ini bukan pertunjukan yang sia-sia, setelah itu timbul berbagai perlawanan rakyat yang hebat, antara lain perjuangan di Pandraih (Bireuen) dan di Baju (Lho’ Seumawe)

Seperti yang digambarkan dalam film Cut Nyak Dhien, para pelajar, anak-anak sejak dini dididik untuk mencintai tanah rencong dan dididik untuk memiliki semangat jihad yang tinggi. Ditanamkan nilai-nilai perjuangan, yang menurut penyair di film tersebut bahwa rukun Islam pertama sahadat, kedua shalat dan ketiga jihad dengan segenap harta, jiwa dan tenaga. Pendidikan sejak dini selain diajari bagaimana menguasai dan memahami agama Islam, juga bagaimana memiliki pengetahuan yang luas dan juga memiliki keahlian berperang. Ketiga hal tersebut, iman, ilmu dan kemampuan berperang harus menjadi jiwa dan pribadi rakyat Aceh tanpa membedakan status dan jenis kelamin.

Makanya, ketika ada panggilan jihad bagi rakyat Aceh, semua rakyat akan menyambut dan ikut turun ke medan perang bersama-sama. Kalaupun sebagian mereka akhirnya tetap berada di rumah tetap memberikan bantuan makanan, harta dan ikut mempersiapkan kebutuhan para mujahid. Dalam film Cut Nyak Dhien juga digambarkan bagaimana pelajar dan pemuda-pemudi Aceh aktif sebagai telik sandi (intel) sebagai pengubung berbagai daerah yang sedang berperang, atau bertugas mengantar makanan untuk para pejuang di desa-desa (gampong). Strategi ini efektif karena menurut Belanda para pelajar dianggap anak-anak dan tidak memiliki kemampuan dalam berberang apalagi memiliki kemampuan militer.

Saanya Membangun.
Setelah penjajahan Belanda yang kemudian dilanjutkan dengan masa fasisme Jepang dan disaat proklamasi kemerdekaan, semangat perjuangan di tanah rencong semakin menggebu-gebu. Bahkan kebebasan tanah rencong dari penjajahan diartikan dengan kembali melakukan perjuangan membangun bangsa Indonesia. Segenap rakyat Aceh, tua-muda, kecil-dewasa, putra-putri bersama-sama serempak bangkit. Segenap pelajar yang tergabung dalam GAPIDA menyebar keseluruh penjuru tanah rencong untuk kembali menyerukan mempertahankan kemerdekaan dari kembalinya Belanda dengan membonceng Sekutu.

Tanah rencong menjadi sangat strategis sejak dulu, karena merupakan pintu masuk ke Indonesia. Kesiagaan rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan sangat menentukan perjuangan dan masa depan kemerdekaan Indonesia. Dalam masa revolusi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, hampir semua sekolah-sekolah di Aceh di tutup karena panggilan tanah air. Kita bisa melihat bagaimana seluruh rakyat aceh baik di kampung maupun kota berlatih militer oleh tentara pemuda dan pelajar yang dulu dilatih oleh Jepang.

Dalam revolusi Desember 1945 yang terkenal dengan peristiwa Cumbok6, GAPIDA sebagai bagian dari kesatuan pemuda pelajar, yang merasa terpanggil dan bertanggung jawab terhadap keselamatan negara, bersama-sama rakyat berada dibarisan depan menyerbu untuk menghancurkan penghianat bangsa. Pelajar Islam tidak diam saja, melihat kitab suci Al-Qur’an dirobek-robek, Ulama, dan rakyat yang ingin merdeka dianiaya. Para pelajar Islam berjuang mati-matian mempertahankan haknya sebagai bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajahan.

Setelah pembasmian penghianat Cumbok selesai, pada tahun 1946, keadaan tanah rencong kembali tenang, para pelajar kembali bisa bersekolah, walaupun sebagian dari anggota GAPIDA ada yang masih melanjutkan perjuangan. Pada bulan januari 1946 diadakan konferensi GAPIDA yang pertama, salah satu keputusan yang dihasilkan adalah meubah GAPIDA menjadi PERPIINDO (Persatuan Pelajar Islam Indonesia).

Melihat kemungkinan, bahwa semakin hari, kondisi bangsa Indonesia semakin meruncing pertikaian dengan Belanda, maka PERPIINDO menganjurkan kepada segenap anggotanya supaya disamping sekolah, juga berlatih menggunakan senjata berat dan ringan sebagai persiapan, bila Belanda menyerang kembali Indonesia. Segala perjuangan PERPIINDO diurus langsung oleh Dewan Perjuangan PERPIINDO dengan mempertimbangkan segala suasana yang terjadi di tanah air Indonesia. Untuk itu perlu dengan tegas disusun suatu tenaga perjuangan yang benar-benar pejuang yang tangkas. Dalam sidang PERPIINDO pada tanggal 14 Maret 1947, lahirlah laskar PERPIINDO yang di pimpin oleh saudara A.K jacouby7.

Diputuskan juga bahwa semua anggota yang berumur diatas 15 tahun, diwajibkan berlatih dalam laskar PERPIINDO. Dengan kerjasama dengan TNI, maka pelatihan laskar PERPIINDO berlangsung dengan memuaskan. Anggota yang sudah terlatih secara militer dikirim ke desa-desa dan kampung-kampung untuk turut serta melatih rakyat menggunakan senjata. Tidak kecuali para puteri PERPIINDO berlatih palang merah (hilal ah mar) yang dibantu oleh perawat rumah sakit pemerintah.

Mengingat jumlah pelajar Aceh yang terbatas, maka dalam salah satu rapat PERPIINDO, laskar PERPIINDO menetapkan bahwa hanya ada satu resimen, yaitu resimen TPI (Tentara Pelajar Aceh). Dalam waktu singat anggota TPI berjumlah lebih kurang 10.000 jiwa8. Kemudian dengan penetapan resimen com TPI Aceh dibagi menjadi 6 bataliyon.

Pada bulan Maret 1948 dengan bantuan divisi X Teungku Cik Di Tiro (mujahidin), laskar PERPIINDO mengadakan latihan kader sebanyak 50 orang di asrama Kuta Alam Kutaraja. Dalam salah satu rapat saat pelatihan nama TPI diresmikan. Walaupun sebelum diresmikan nama TPI sudah sering kali digunakan untuk menyebut laskar PERPIINDO. Bukan hanya staf Resimen saja yang berlatih, namun ditiap-tiap Balatiyon juga mengadakan latihan kader yang dibantu divisi X Teungku Cik Di Tiro.

Dalam konferensi PERPIINDO yang kedua pada bulan April 1948 di kota Sigli, semua rencana PERPIINDO disahkan secara aklamasi. Dalam konferensi ini juga disahkan uniform TPI lencana dan bendera. Lencana berbentuk bulat telur, dasar merah dan ditengah-tengahnya bulan sabit dan bintang. Bendera benbentuk segi empat, dengan dasar merah ditengahnya tercantum lencana tadi dengan warna putih.

Biarpun tanah rencong tidak kembali dimasuki Belanda pada agresi pertama, ya barangkali Belanda trauma dengan perjuangan rakyat Aceh yang tidak kenal putus asa dan pantang menyerah, namun TPI selalu siap mengahadapi segala macam kemungkinan. Setiap saat anggota TPI dikirim ke daerah-daerah untuk menyusun tenaga raksasa dalam perang semesta (totaliter). Juga setiap saat siap membatu TNI dalam menyelesaikan berbagai pemberontakan di daerah. Seperti keuletan TPI Bataliyon V Susoh yang menghancurkan partai Raja Tampok (barisan liar) diperbatasan Aceh Barat dan Aceh Selatan, dan berhasil dengan sangat memuaskan.

Saat meletus agresi Belanda kedua pada tanggal 19 Desember 1948 tenaga pejuang TPI bergabung dengan TNI untuk membatu perjuangan disegala lapangan. Daintaranya ditugaskan di ALRI sebagai penjaga pantai, barisan bumi hangus, membuat lubang perlindungan dan pertahanan, membantu KMK pengawal kota, dan peninjau udara. Satu compi TPI bersama-sama dengan kepala staff umum TNI divisi X Tjek Mat Rahmany berangkat ke front medan area9 dan bertempur disamping TNI.

Sesudah statement Roem-Royen di tandatangani maka pada bulan April 1949 seluruh anggota TPI dikerahkan kembali ke bangku sekolah. Diwaktu KMB TPI senantiasa siap diaga dan juga tetap dibangku sekolah. Hal ini disebabkan janji Belanda memang sejak dulu sukar sekali dipegang.

Setelah perjanjian KMB disepakati kedua belah pihak, antara Indonesia dan Belanda maka semua laskar kerakyatan dan juga pemuda pelajar dibubarkan dan bagi yang hendak bergabung dengan TNI dipersilahkan. Pembubaran laskar pelajar lewat UU Pemerintah No. 32 tahun 1949.

Bergabung dengan PII
Komunikasi dan hubungan dengan PII, dan khususnya dengan Brigade PII di Yogyakarta sudah ada sejak awal berdirinya Brigade PII. Kedekatan ini juga disebabkan karena banyak ulama Aceh yang tergabung dalam Masyumi. Sebagai salah satu anak kandung Masyumi, PII jelas menyebar seiring semakin meluasnya pengaruh Masyumi diseluruh Indonesia. Setiap ada Masyumi di daerah tertentu, juga akan diikuti dengan berdirinya cabang PII dan GPII. Hal ini juga disebabkan sebagai sesama laskar bentukan pelajar, sehingga memiliki kedekatan emosional antara laskar PERPIINDO – TPI dan Brigade PII.

Di Aceh, komunikasi Masyumi dijalin lewat hubungan antara Muhammad Daud Beureu’eh (1899-1987) sebagai pimpinan PUSA dengan Muhammad Natsir dan para pimpinan Masyumi di Yogyakarta. Selama tokoh-tokoh Masyumi yang memegang peranan penting di pemerintahan, rakyat Aceh tidak melakukan sikap apapun, namun tetap mengapati peta politik tanah air. Lewat hubungan yang baik inilah PII juga menjalin hubungan yang baik dengan para pelajar di Aceh yang tergabung dalam PERPIINDO.

Dalam Konggres PII ke III yang berlangsung di Bandung, disamping PERPIINDO berfusi dengan PII, utusan TPI dapat bertemu langsung dengan pimpinan pusat Brigade PII, sehingga dapat menentukan langkah selanjutnya kedepan dengan tegas dan hasil permufakatan bersama. Fusi yang dilakukan bukan melebur sepenuhnya kepengurusan PERPIINDO kedalam tubuh PII, namun masih memiliki otonomi dalam menentuka kebijakan dan program pemberdayaan pelajar di Aceh. Dan pada tahun 1951 ketika diselenggarakan Konggres Muslimin Indonesia (KMI) di Jakarta dan melahirkan Front Pemuda Islam Indonesia (FPII), antara PII dan PERPIINDO masih duduk satu meja sejajar, sebagai salah satu perwakilan pelajar Aceh.

Patut juga diketahui, selama TPI berjuang bersama-sama TNI tidak pernah mendapat gaji apalagi pangkat. Memang bukanlah itu tujuan TPI dalam perjuangannya, namun semata-mata demi tanah air dan harga diri bangsa. Dan pada intinya perjuangan mereka adalah panggilan jihad sebagai wujud nyata keimanan mereka. Semangat Islam yang menyala-nyala yang tidak pernah padam inilah yang menyebabkan TPI tampil kedepan memenuhi panggilan ibu pertiwi.

Bagi PII (Pelajar Islam Indonesia), perjuangan PERPIINDO dan khususnya TPI Aceh tidak mudah dilupakan (seharusnya). Karena, justeru perjuangan tersebut adalah lukisan yang indah dan permai yang ternukil dalam lembaran sejarah panjang Pelajar Islam Indonesia (PII) pada khususnya dan sejarah pelajar Indonesia pada umumnya. Dan sepantasnyalah patut dicatat dengan tinta emas sebagai kenang-kenangan sejarah PII dimasa yang akan datang.

Yogyakarta,
Sabtu pagi (00:14) 04 April 2009

Sunano

Menapaki lembar demi lembar sejarah PII sampai sekarang yang sudah berumur lebih dari 61 tahun, kita bisa semakin jelas melihat munculnya gejala kejenuhan dan keletihan. Umur 60 tahun, yang secara kultural lebih mapan, dan akibat pengalaman historis seharusnya lebih dewasa. Namun, agaknya, urgensi untuk membendung dan mengatasi fenomena kejenuhan dan keletihan itu sendiri belumlah menjadi pertimbangan pokok dalam keseluruhan usaha analisis yang tersedia. Kalaupun ada ia bersifat tambal sulam, tidak merupakan konsep yang integral. Akibanya kita memang bisa mengatasi beberapa masalah, tapi tidak pernah bisa mendekati inti persoalan.

Tanda kejenuhan dan keletihan bahwa gagasan masifikasi PII semakin kehilangan orientasi. Pokok orientasi adalah bagaimana PII betul-betul difungsikan sebagai media, sebagai alat bukan sebagai tujuan, walaupun memang alat baru berfungsi secara efektif jika memiliki tujuan yang jelas. Kejelasan tujuan ini harus merujuk pada sumber nilai, ajaran yang paling benar, paling transenden sehingga mampu menjadi petunjuk bagi yang mengikuti. Secara konsepsional PII bertujuan untuk mengupayakan kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia. Secara kosmologi addien Islam bahwa tidak ada dikotomi dalam Islam (ber-Islam yang lima, ber-Iman yang enam, penghayatan terhadap ke-Tuhan-nan). Secara epistemologis tujuan bersumber pada Ruhani sebagai subyek, Qalbi sebagai penentu nilai dan ‘Aqli sebagai sumber teori dan fakta. semuanya itu sebagai sarana untuk berma’rifatullah.

Metodologinya adalah berfikir rasional (Q.S An-Nisa, 4:113) dan “Aku ciptakan jin dan manusia, tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56). Berfikir rasional dan memiliki sikap tunduk pada fitrah manusia merupakan gagasan integrasi dan interkoneksi Islam dan Ilmu. Kader PII selain harus memiliki pengetahuan yang luas juga memiliki spiritualitas yang kuat. Dua potensi ini harus dimiliki bersamaan. Ilmu memberikan kemampuan kepada kader PII untuk mengolah sumber daya yang ada. Spiritualitas memberikan landasan etik pada setiap perilaku kader PII. Sikap keilmuan kader PII idealnya adalah siddiq, amanah, tabligh, fathonah. Selain itu, dalam mengkader orang PII memegang prinsip ”memberikan kesadaran dengan contoh”. Perilaku etik menandakan pemahaman keilmuan kader yang mendalam. Dengan kerangka ilmu kita melihat tujuan merujuk pada Sumber pengetahuan dalam Islam: Al-Qur’an yang transendental, As-Sunnah yang universal dan Ijtihad yang cultural dan ‘Ijma yang sosial. Dinamisnya gerakan PII ketika mampu memanfaatkan potensi akal untuk menterje- mahkan tanda-tanda zaman. Munculnya organisasi PII juga merupakan pilihan, bentuk organisasi semacam ini adalah produk dari hijrahnya sebagian masyarakat pelajar (dengan basis pendidikan sekuler) bertemu dengan santri (dengan basis pendidikan religius).

Dulu, ketika awal berdirinya PII, berangkat dari gagasan PII sebagai organisasi pemersatu antara kelompok santri-sarungan dengan pelajar sekolah yang sekuler (dampak kebijakan politik etis kolonial Belanda). PII juga pernah menjadi bagian dari mata rantai perjuangan umat Islam Indonesia dengan gagasan Panca Cita (Parpol Islam hanya Masyumi, organisasi Pemuda Islam hanya GPII, organisasi Mahasiswa Islam hanya HMI, organisasi Pelajar Islam hanya PII, organisasi Pandu Islam hanya Pandu Islam Indonesia). Tapi ketika Masyumi dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1960 dengan Keppres No. 200 tahun 1960, GPII juga dibubarkan 10 Juli 1963 dan gerakan Islam lain menjadi semakin pragmatis maka bubarlah gagasan panca cita sebagai simbol mata rantai praktis telah terputus. Masing-masing, sepertinya telah menjadi rantai tersendiri. Menggelinding sesuai dengan irama perjuangan dan pilihan obyek keumatan sendiri.

Ilustrasi diatas menunjukkan ”persoalan zaman” yang dihadapi organisasi pada saat kehadiran dan perkembangannya, bisa saja tidak bersifat abadi. Situasi masyarakat itu sendiri selalu berubah secara spiral dan diametral. Dan setiap perubahan situasi masyarakat selalu membawa jenis persoalan dan tantangannya sendiri. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa organisasi yang bersangkutan kemudian tidak relevan atau harus membubarkan diri. Yang kita saksikan adalah sebaliknya, setiap organisasi dengan berbagai alasan cenderung untuk berusaha tetap hidup, bertahan dan berusaha mengembangkan diri. Begitu pula PII senantiasa membenahi diri dan berbuat yang terbaik untuk kepentingan umat muslimin Indonesia khususnya. Toh, seringkali realitas dan persoalan muncul dan berubah lebih cepat dari kemampuan analisis setiap anggota PII. Selayaknya sebagai bagian dari komunitas PII sedikit memberikan gambaran realitas apa yang sedang dihadapi internal PII, ini bukan memetakan tapi upaya menagkap bayang-bayang senja hari.

Pada konteks peran PII di pelajar, di tuntut untuk terus menerus mengupayakan relevansi sosialnya sebagai persoalan yang paling mendasar. Seperti kita membaca sejarah PII, tentunya persoalan yang dihadapi jelas sudah jauh berbeda, untuk itu membutuhkan peran dan strategi kelembagaan yang berbeda. Relevansi sosial adalah prinsip, sedangkan bentuk-bentuknya itu tergantung problem yang dihadapi dan strategi penyelesaian masalah yang digunakan. Relevansi sosial membutuhkan dua syarat, yakni kemampuan organisasi untuk mempengaruhi yang berarti ikut mewarnai proses perubahan di masyarakat dan kemampuan menyesuaikan diri, dalam arti bagaimana ia menemukan interpretasi nilai-nilai yang ada di PII untuk di sesuaikan dengan kondisi, realitas baru yang muncul.

Upaya yang bisa kita lakukan antara lain. Pertama, optimis; artinya tidak memandang masalah sebagai masalah, akan tetapi peluang yang membawa berbagai kemungkinan (negative dialektica). Kedua, aktif, berarti kesediaan untuk selalu bergerak dan berusaha. Ketiga, kreatif, berarti usaha untuk selalu memikirkan, merenungkan dan menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Semangat Islam yang selalu mendasari gerak PII harus menjadi landasan pada interpretasi tujuan PII. Semangat ini bisa kita lihat pada ayat 24 surat Ibrahim (14) ”tidaklah kamu perhatikan bagaimana Alloh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”. Ini maksudnya bahwa Islam (umat Islam dan pelajar Islam khususnya) harus memiliki keterkatitan dengan sejarah, masa lampau. Sehingga sifat gerakan yang dilakukan adalah berkesinambungan (istimrar). Keterkaitan tersebut akan memberikan gambaran yang komprehensif tentang ”kesempurnaan kebudayaan” pada konteks PII. Akan tetapi jika kita hanya mengacu pada satu sisi (akarnya teguh) akan menyebabkan kita statis, stagnan dan jalan ditempat (taqlid dan jumud).

Pada sektor yang kedua adalah ”kesempurnaan pendidikan” adalah bagaimana pelajar mampu memahami zaman yang paling kini dan memiliki kemampuan antisipatif. Peristilahan tersebut, menurut Al-Qur’an megisyaratkan bahwa pemikiran dan gerakan Islam harus memiliki orisinalitas, keaslian dan menzaman sebagai suatu syarat ketangguhan pemikiran (kebudayaan) Islam. Maka dari itu gerakan Islam harus memiliki keterkaitan dengan tradisi, mengandung orisinalitas dan bersifat relevan.

Pada kontek inilah keterkaitan antara ”kesempurnaan kebudayaan” dan kesempurnaan pendidikan” yang menjadi tujuan PII memiliki relevansi sosialnya. Melihat gejala perubahan sosial yang ada, dalam tahap ini, faham, pemikiran dan gerakan PII dihadapkan pada tantangan yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Kebudayaan besar adalah kebudayaan yang tidak menghilangkan sanad dengan masa lalu (akarnya jauh menghujam kedalam tanah) tetapi juga terus mengembangkan agar selalu relevan dengan kemajuan zaman yang ada.

Tapi pada konteks kemampuan antisipatif, bisa dikatakan belum cukup kaya pengalaman menghadapi kehidupan seluk beluk masyarakat post-modernisme dan post-strukturalisme. Fikiran-fikiran keagamaan yang dimiliki para pakar Islam belum cukup mampu menjangkau jauh ke depan. Terhadap hempasan gelombang perubahan ketiga yang bertumpu pada sektor jasa inilah tampaknya masyarakat Islam di tantang dengan fikiran antisipatif. Jangan sampai pikiran yang muncul adalah sikap ganda, antara menerima dan menolak, antara memerlukan dan mengutuk. Padahal yang diperlukan bagi kita sekarang jauh dari sekedar memuji dan mencemooh, melainkan menciptakan alternatif baru yang dapat diterima baik terutama oleh umat Islam sendiri maupun umat manusia pada umumnya.

Gelombang wacana penyempurnaan sistem kaderisasi PII (baca: ta’dib) yang memuncak pada pertemuan samnas di Cempaka Putih, Jakarta pada pertengahan bulan Maret 2007 berjalan terseok-seok. Wacana yang menguat waktu itu adalah menempatkan sistem kaderisasi PII dalam kondisi transisi. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada semua kader PII, khususnya instruktur ikut berkontribusi pada penyempurnaan sistem kaderisasi dan memungkinkan munculnya ide-ide cerdas tentang tawaran konsep sistem kaderisasi PII yang lebih efektif dan relevan mendepan.

Selain merumuskan transisi sistem kaderisasi PII, juga munculnya gagasan keterbukaan sistem kaderisasi PII (open system). Hal ini dilatarbelakangi sangat cepatnya perkembangan sistem pengkaderan dan pelatihan di luar PII. Gagasan agar kaderisasi PII tidak lagi eksklusif dan mau menerima dan mengadopsi sistem gagasan dari luar, menjadi satu tema yang sangat menarik untuk menjadi bahan kajian kita bersama.

Inklusifitas sistem kaderisasi PII akan jauh menyentuh wilayah dasar sistem kaderisasi jika dikorelasikan dengan perkembangan wacana pendidikan saat ini, khususnya wacana pendidikan multicultural. Gagasan tentang pendidikan multicultural telah meluas meluas menjadi gerakan dan mewujud dalam berbagai lembaga sekolah, kursus, dan komunitas-komunitas kajian di berbagai tempat di Indonesia. Semangat multicultural adalah apresiasi positif terhadap keberagaman budaya dan komunitas yang ada di masyarakat. Dan pada akhirnya kader-kader PII dapat mampu berperan optimal di masyarakat dimana dia tinggal.

Gagasan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan historis dan sosiologis bahwa masyarakat Indonesia sangat beragam. Hampir disemua komunitas memiliki keanekaragaman yang sendiri-sendiri, otonom dan independent dengan komunitas lain. Sehingga dalam satu bingkai training harusnya mampu mengakomodasi kompleksitas pelajar yang ada. Inilah saya kira yang perlu menjadi perhatian kita bersama dalam training. Biasanya training PII terpaku dengan target, terkesan mengasumsikan bahwa input boleh bermacam-macam dan beragam latar belakang kebudayaan dan keunikan diri; namun output haruslah sama dan satu visi.

Jika kita kaitkan wacana diatas dengan konteks HAM yang ada saat ini, kita akan terjebak dalam satu perspektif “kekerasan” karena kurang mengapresiasi keunikan dan keberagaman peserta. Persoalan yang lain sebagai implikasi dari akibat benturan berbagai dinamika pemikiran yang muncul saat training adalah adanya ketegangan-ketegangan dan konflik. Hal ini seharusnya bisa diselesaikan dalam training PII, namun kenyataannya dalam setiap forum nasional selalu saja muncul ketegangan ini.

Ditingkat internal, problem kemandekan pemikiran sistem kaderisasi PII khususnya disebabkan tidak adanya keberlanjutan wacana ini dengan aksi dilapangan. Satu hal yang menurut saya sangat mendasari konsep kaderisasi PII adalah wacana tentang kebangkitan Islam abad ke 21. saya kira agar kita tidak terlambat merespon perkembangan wacana keilmuan dan perkembangan masyarakat, gagasan kebangkitan Islam abad 21 perlu di dengungkan terus menerus dalam setiap aktivitas PII. Misalkan dengan kembali PII merumuskan gagasan “kesatuan imamah” yang menjadi salah satu doktrin di ikrar Jakarta. apakah akan sama mengusung gagasan HTI dengan menyuarakan gagasan “khilafah islamiyah” atau mengusung wacana pemberlakuan “syariat Islam” atau mengikuti wacana salafy dengan “kembali kepada al-qur’an dan as-sunnah” atau mengikuti perkembangan banyak organisasi sekarang (semisal NU, Muhammadiyah dan Persis) dengan gagasan “membumikan Islam” dengan cara ikut berpartisipasi sepenuhnya dalam penyelesaian problem dan ikut merumuskan masa depan umat manusia.

Kedua adalah merumuskan konsepsi Islam yang mendasari PII, hal ini penting sebagai rujukan doktrin bagi kader PII. Semisal ikhwanul muslimin (IM) dengan merumuskan Islam sebagai dakwah dan politik. NU menyandarkan diri pada rumusan Islam sebagai aqidah, syariah dan tasawuf. Dalam satu diskusi informal PII di Mangkuyudan 34 sempat melontarkan bahwa konsepsi Islam yang menjadi doktrin PII adalah Islam di pandang sebagai “doktrin dan gerakan”. Namun penjabaran hal tersebut saya kira perlu diskusi dan kajian lebih lanjut.

Setelah merumuskan kedua hal tersebut, kemudian mencoba menjawab berbagai tantangan yang ada saat ini; semisal PII berbicara tentang neo-modernisasi Islam, PII dan globalisasi menurut perspektif Islam, universalisasi doktrin Islam dalam konteks lokal, dan lain-lain. Gagasan inilah saya kira akan memberikan perspektif baru tentang sistem kaderisasi PII mendepan, karena tantangan kita adalah bukan lagi state, tetapi gelombang globalisasi kebudayaan.

Ditulis oleh : Sunano (Ketua Umum PW PII Yogyakarta Besar)

pii

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Gelombang wacana penyempurnaan sistem kaderisasi PII (baca: ta’dib) yang memuncak pada pertemuan samnas di Cempaka Putih, Jakarta pada pertengahan bulan Maret 2007 berjalan terseok-seok. Wacana yang menguat waktu itu adalah menempatkan sistem kaderisasi PII dalam kondisi transisi. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada semua kader PII, khususnya instruktur ikut berkontribusi pada penyempurnaan sistem kaderisasi dan memungkinkan munculnya ide-ide cerdas tentang tawaran konsep sistem kaderisasi PII yang lebih efektif dan relevan mendepan.

Selain merumuskan transisi sistem kaderisasi PII, juga munculnya gagasan keterbukaan sistem kaderisasi PII (open system). Hal ini dilatarbelakangi sangat cepatnya perkembangan sistem pengkaderan dan pelatihan di luar PII. Gagasan agar kaderisasi PII tidak lagi eksklusif dan mau menerima dan mengadopsi sistem gagasan dari luar, menjadi satu tema yang sangat menarik untuk menjadi bahan kajian kita bersama.

Inklusifitas sistem kaderisasi PII akan jauh menyentuh wilayah dasar sistem kaderisasi jika dikorelasikan dengan perkembangan wacana pendidikan saat ini, khususnya wacana pendidikan multicultural. Gagasan tentang pendidikan multicultural telah meluas meluas menjadi gerakan dan mewujud dalam berbagai lembaga sekolah, kursus, dan komunitas-komunitas kajian di berbagai tempat di Indonesia. Semangat multicultural adalah apresiasi positif terhadap keberagaman budaya dan komunitas yang ada di masyarakat. Dan pada akhirnya kader-kader PII dapat mampu berperan optimal di masyarakat dimana dia tinggal.

Gagasan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan historis dan sosiologis bahwa masyarakat Indonesia sangat beragam. Hampir disemua komunitas memiliki keanekaragaman yang sendiri-sendiri, otonom dan independent dengan komunitas lain. Sehingga dalam satu bingkai training harusnya mampu mengakomodasi kompleksitas pelajar yang ada. Inilah saya kira yang perlu menjadi perhatian kita bersama dalam training. Biasanya training PII terpaku dengan target, terkesan mengasumsikan bahwa input boleh bermacam-macam dan beragam latar belakang kebudayaan dan keunikan diri; namun output haruslah sama dan satu visi.

Jika kita kaitkan wacana diatas dengan konteks HAM yang ada saat ini, kita akan terjebak dalam satu perspektif “kekerasan” karena kurang mengapresiasi keunikan dan keberagaman peserta. Persoalan yang lain sebagai implikasi dari akibat benturan berbagai dinamika pemikiran yang muncul saat training adalah adanya ketegangan-ketegangan dan konflik. Hal ini seharusnya bisa diselesaikan dalam training PII, namun kenyataannya dalam setiap forum nasional selalu saja muncul ketegangan ini.

Ditingkat internal, problem kemandekan pemikiran sistem kaderisasi PII khususnya disebabkan tidak adanya keberlanjutan wacana ini dengan aksi dilapangan. Satu hal yang menurut saya sangat mendasari konsep kaderisasi PII adalah wacana tentang kebangkitan Islam abad ke 21. saya kira agar kita tidak terlambat merespon perkembangan wacana keilmuan dan perkembangan masyarakat, gagasan kebangkitan Islam abad 21 perlu di dengungkan terus menerus dalam setiap aktivitas PII. Misalkan dengan kembali PII merumuskan gagasan “kesatuan imamah” yang menjadi salah satu doktrin di ikrar Jakarta. apakah akan sama mengusung gagasan HTI dengan menyuarakan gagasan “khilafah islamiyah” atau mengusung wacana pemberlakuan “syariat Islam” atau mengikuti wacana salafy dengan “kembali kepada al-qur’an dan as-sunnah” atau mengikuti perkembangan banyak organisasi sekarang (semisal NU, Muhammadiyah dan Persis) dengan gagasan “membumikan Islam” dengan cara ikut berpartisipasi sepenuhnya dalam penyelesaian problem dan ikut merumuskan masa depan umat manusia.

Kedua adalah merumuskan konsepsi Islam yang mendasari PII, hal ini penting sebagai rujukan doktrin bagi kader PII. Semisal ikhwanul muslimin (IM) dengan merumuskan Islam sebagai dakwah dan politik. NU menyandarkan diri pada rumusan Islam sebagai aqidah, syariah dan tasawuf. Dalam satu diskusi informal PII di Mangkuyudan 34 sempat melontarkan bahwa konsepsi Islam yang menjadi doktrin PII adalah Islam di pandang sebagai “doktrin dan gerakan”. Namun penjabaran hal tersebut saya kira perlu diskusi dan kajian lebih lanjut.

Setelah merumuskan kedua hal tersebut, kemudian mencoba menjawab berbagai tantangan yang ada saat ini; semisal PII berbicara tentang neo-modernisasi Islam, PII dan globalisasi menurut perspektif Islam, universalisasi doktrin Islam dalam konteks lokal, dan lain-lain. Gagasan inilah saya kira akan memberikan perspektif baru tentang sistem kaderisasi PII mendepan, karena tantangan kita adalah bukan lagi state, tetapi gelombang globalisasi kebudayaan.